Senin, 19 Oktober 2026

Menjaga Paru-Paru Bumi yang Tersisa: Panggilan Nurani untuk Menghentikan Karhutlah






 


Menjaga Paru-Paru Bumi yang Tersisa: Panggilan Nurani untuk Menghentikan Karhutlah

 

Setiap kali musim kemarau tiba, bayangan kelam selalu menghantui hamparan hijau bumi pertiwi. Asap pekat membumbung tinggi, mengubah langit biru menjadi kelabu pekat, dan menyisakan bau sengit yang mencekat pernapasan. Di balik kabut asap itu, tersimpan tragedi besar yang berulang setiap tahun: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah). Karhutlah bukan sekadar berita berkala tentang titik api (hotspot). Ini adalah luka menganga di tubuh alam yang memanggil kepedulian kita semua.

Hutan bukan sekadar deretan pohon tinggi atau hamparan semak belukar. Hutan adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup—dari satwa langka yang terancam punah hingga masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya secara turun-temurun pada kelestarian alam. Bayangkan kepanikan di dalam lebatnya rimba saat lidah api dengan cepat melahap segalanya. Hewan-hewan kehilangan tempat berlindung, berlari tanpa arah menyelamatkan diri dari panas yang memangsa. Sementara itu, di permukiman terdekat, anak-anak kecil harus menghirup udara beracun yang mengancam masa depan kesehatan mereka, dan para orang tua cemas menatap ladang yang gagal panen akibat bencana.Ketika hutan terbakar, kita tidak hanya kehilangan kayu dan daun. Kita sedang merampas hak generasi mendatang untuk bernapas lega dan menikmati keindahan alam yang asri.

Sering kali, api tidak datang sendiri. Sebagian besar kasus Karhutlah dipicu oleh ulah manusia—baik secara sengaja untuk membuka lahan dengan cara membakar, maupun karena kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan api perkemahan tanpa dipadamkan sempurna. Musim kemarau dan tiupan angin kencang memang membuat api cepat merambat, tetapi tangan manusialah yang menyulut percikan pertamanya. Ini berarti, Karhutlah adalah bencana yang sebenarnya bisa dicegah jika ada kesadaran dan kepedulian di dalam setiap diri kita. Mari lakukan langkah nyata mulai dari lingkungan terkecil:

1.    Hentikan Pembakaran Lahan: Jika Anda berada di dekat area perkebunan atau pertanian, pilihlah metode pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning) yang jauh lebih ramah lingkungan.

2.    Waspada dan Peduli: Jangan pernah meninggalkan api unggun atau puntung rokok dalam keadaan menyala saat berada di alam terbuka.

3.    Segera Laporkan: Jika Anda melihat titik api sekecil apa pun di hutan atau lahan kosong, segera laporkan kepada aparat atau pihak berwenang agar bisa ditangani sebelum meluas.

4.    Edukasi Generasi Muda: Ajarkan anak-anak dan orang di sekitar kita tentang betapa berharganya setiap pohon bagi kehidupan di bumi.

Hutan yang terbakar butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk pulih seperti sedia kala. Namun, nyawa yang hilang dan kerusakan yang ditimbulkan akibat asap beracun tidak bisa dibeli dengan waktu. Mari kita bayangkan masa depan anak cucu kita. Apakah mereka akan mewarisi hutan yang hijau dan rindang, atau hanya hamparan abu dan udara yang menyesakkan?

Penulis

 

      H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara , Wakil Ketua MKKS SMP Swasta Kota Surabaya Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 

  Email : banuspd64@admin.smp.belajar.id

     NO HP 083857963098


Tidak ada komentar:

Posting Komentar