Menjaga Paru-Paru Bumi yang Tersisa:
Panggilan Nurani untuk Menghentikan Karhutlah
Setiap kali musim kemarau tiba, bayangan kelam selalu menghantui
hamparan hijau bumi pertiwi. Asap pekat membumbung tinggi, mengubah langit biru
menjadi kelabu pekat, dan menyisakan bau sengit yang mencekat pernapasan. Di
balik kabut asap itu, tersimpan tragedi besar yang berulang setiap tahun:
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah). Karhutlah bukan sekadar berita berkala
tentang titik api (hotspot). Ini adalah luka menganga di tubuh alam yang
memanggil kepedulian kita semua.
Hutan bukan sekadar deretan pohon tinggi atau hamparan semak belukar.
Hutan adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup—dari satwa langka yang terancam
punah hingga masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya secara turun-temurun
pada kelestarian alam. Bayangkan kepanikan di dalam lebatnya rimba saat lidah
api dengan cepat melahap segalanya. Hewan-hewan kehilangan tempat berlindung,
berlari tanpa arah menyelamatkan diri dari panas yang memangsa. Sementara itu,
di permukiman terdekat, anak-anak kecil harus menghirup udara beracun yang
mengancam masa depan kesehatan mereka, dan para orang tua cemas menatap ladang
yang gagal panen akibat bencana.Ketika hutan terbakar, kita tidak hanya
kehilangan kayu dan daun. Kita sedang merampas hak generasi mendatang untuk
bernapas lega dan menikmati keindahan alam yang asri.
Sering kali, api tidak datang sendiri. Sebagian besar kasus Karhutlah
dipicu oleh ulah manusia—baik secara sengaja untuk membuka lahan dengan cara membakar,
maupun karena kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan atau
meninggalkan api perkemahan tanpa dipadamkan sempurna. Musim kemarau dan tiupan
angin kencang memang membuat api cepat merambat, tetapi tangan manusialah yang
menyulut percikan pertamanya. Ini berarti, Karhutlah adalah bencana yang
sebenarnya bisa dicegah jika ada kesadaran dan kepedulian di dalam
setiap diri kita. Mari lakukan langkah nyata mulai dari lingkungan terkecil:
1. Hentikan Pembakaran Lahan: Jika Anda berada di dekat area
perkebunan atau pertanian, pilihlah metode pembukaan lahan tanpa bakar (zero
burning) yang jauh lebih ramah lingkungan.
2. Waspada dan Peduli: Jangan pernah meninggalkan api unggun
atau puntung rokok dalam keadaan menyala saat berada di alam terbuka.
3. Segera Laporkan: Jika Anda melihat titik api sekecil
apa pun di hutan atau lahan kosong, segera laporkan kepada aparat atau pihak
berwenang agar bisa ditangani sebelum meluas.
4. Edukasi Generasi Muda: Ajarkan anak-anak dan orang di sekitar
kita tentang betapa berharganya setiap pohon bagi kehidupan di bumi.
Hutan yang terbakar butuh waktu puluhan, bahkan ratusan tahun untuk
pulih seperti sedia kala. Namun, nyawa yang hilang dan kerusakan yang
ditimbulkan akibat asap beracun tidak bisa dibeli dengan waktu. Mari kita
bayangkan masa depan anak cucu kita. Apakah mereka akan mewarisi hutan yang
hijau dan rindang, atau hanya hamparan abu dan udara yang menyesakkan?
Penulis
H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya ,
Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara , Wakil Ketua MKKS SMP Swasta Kota
Surabaya Dan Alumni Mahasiswa S2 RPL
MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : banuspd64@admin.smp.belajar.id
NO HP 083857963098





Tidak ada komentar:
Posting Komentar