Minggu, 18 Oktober 2026

Menjaga Merah Putih: Peran Resolusi Jihad, Nahdlatul Ulama, dan Santri dalam Membangun Indonesia
























 


Menjaga Merah Putih: Peran Resolusi Jihad, Nahdlatul Ulama, dan Santri dalam Membangun Indonesia

 

Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober bukan sekadar seremonial tahunan bagi kaum santri dan pesantren. Tanggal ini dipilih untuk mengenang kembali momentum historis ketika para ulama dan santri berdiri di garis terdepan demi mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang saat itu baru seumur jagung. Di balik ketangguhan dan semangat juang tersebut, terdapat peran besar Nahdlatul Ulama (NU) serta seruan monumental bernama Resolusi Jihad.

1. Akar Sejarah Resolusi Jihad: Titik Balik Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya aman. Ancaman nyata datang dari kedatangan kembali tentara Sekutu yang diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berniat merebut kembali kekuasaan di Nusantara. Situasi genting ini memuncak di Surabaya pada Oktober 1945, di mana pasukan Sekutu dan NICA bersiap melumpuhkan kekuatan Republik.

Melihat ancaman tersebut, pemerintah Indonesia membutuhkan dukungan moral dan spiritual yang masif untuk membakar semangat rakyat. Bung Karno, sebagai Presiden, bahkan meminta pandangan dan fatwa langsung kepada para ulama besar, terutama Hadratussheikh K.H. Hasyim Asy'ari selaku pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.

Respons atas kegentingan tersebut melahirkan Resolusi Jihad yang disahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi ini berisi fatwa tegas dan mengikat bagi umat Islam:

  • Membela tanah air dari penjajah hukumnya adalah fardhu 'ain (kewajiban mutlak bagi setiap individu Muslim) yang berada dalam radius lingkaran tertentu.
  • Gugur dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan dikategorikan sebagai syahid.

Seruan ini mengubah perlawanan rakyat dari sekadar gerakan nasional biasa menjadi gerakan moral-spiritual yang melibatkan jutaan santri, kiai, dan masyarakat umum dari berbagai penjuru daerah.

2. Peran Nahdlatul Ulama dan Mobilisasi Santri di Medan Laga

Resolusi Jihad bukanlah fatwa di atas kertas semata. NU menggerakkan jaringan pesantren dan struktur organisasi secara masif. Para kiai turun gunung memimpin langsung barisan laskar rakyat, seperti Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Puncak dari gelombang perlawanan ini meletus pada Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur, berbekal senjata seadanya namun dibakar oleh pekikan takbir dan semangat jihad kebangsaan, bertempur mati-matian menahan gempuran tentara Inggris yang bersenjata modern. Tokoh-tokoh NU seperti K.H. Wahid Hasyim dan Bung Tomo (yang mendapat dukungan penuh kalangan pesantren) berhasil menyatukan energi keagamaan dan nasionalisme ke dalam satu tarikan napas.

Perlawanan sengit ini berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, membuktikan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia berdiri di atas tekad kuat rakyatnya yang tidak mudah ditaklukkan kembali.

3. Hubungan Erat Hari Santri, Resolusi Jihad, dan Bangsa Indonesia

Ketiga elemen ini memiliki benang merah yang sangat kuat dalam membentuk karakter dan eksistensi bangsa Indonesia hingga saat ini:

·         Nasionalisme yang Berakar dari Iman (Hubbul Wathan Minal Iman): Konsep cinta tanah air sebagian dari iman yang digaungkan oleh KH Hasyim Asy'ari membuktikan bahwa nasionalisme dan agama bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya saling menguatkan. Keindonesiaan dirawat dengan nilai-nilai keagamaan, dan agama diamalkan melalui pembelaan terhadap tanah air.

·         Fondasi Karakter Bangsa: Santri dan pesantren mengajarkan nilai-nilai moderasi (wasathiyah), toleransi, kemandirian, dan cinta damai. Karakter inilah yang menjadi perekat kebinekaan di Indonesia, melawan segala bentuk radikalisme maupun disintegrasi bangsa.

·         Kontribusi Berkelanjutan bagi NKRI: Dari masa perjuangan fisik kemerdekaan, era Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi dan digital saat ini, kaum santri dan ulama senantiasa hadir sebagai penjaga gawang moral bangsa. Mereka memastikan bahwa arah pembangunan Indonesia tetap berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945 tanpa kehilangan jati diri religiusnya.

Dalam rangkaian Peringatan Hari Santri Tahun 2026, PCNU Kota Surabaya mendorong PC Fatayat NU Kota Surabaya Untuk  menyelenggarakan kegiatan dgn nama "Heritage Walk Resolusi Jihad" utk santri & pelajar (SMP - SMA sederajat) yang dilaksanakan pada hari Ahad 18 Oct 26 jam 06:30.Dalam kesempatan ini Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Keluarahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pada Hari AHAD 18/10/2026 Kumpul di Sekolah  Pukul 06.00 Untuk Ikut Serta PERINGATAN HARI SANTRI 2026 Tersebut.

Dalam kesempatan ini Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Mengirimkan Delegasi Sebagai Berikut :

NAMA :

1. Alifa Sofi Maulidia [7] (SMP PGRI 6 SBY)

2. . Mohammad Dzikir Alawi [7] (SMP PGRI 6 SBY)

3. Davino Hilmi Zakwan [7] (SMP PGRI 6 SBY)

 

4. Linda Desari [7] (SMP PGRI 6 SBY)

5. Alifa Sofi Maulidia [8] (SMP PGRI 6 SBY)

6. Revan [8] (SMP PGRI 6 SBY)

 

7. Aulia Novita Sani [9] (SMP PGRI 6 SBY)

8. Siti Nur Amalia [9] (SMP PGRI 6 SBY)

9. M. Fariz Alfarizi [9] (SMP PGRI 6 SBY)

10. Roihul Jinan [9] (SMP PGRI 6 SBY)

Pendamping :

1.Ustad MUFID,S.Pd. I

2.Ibu ANIS LAILY MUFIDAH,S.Pd

3.Ibu FENTY AYU RESMANAWATI ,S.Pd

Peserta secara  riang akan diajak jalan – Jalan  mengunjungi tempat- tempat  bersejarah menelusuri jejak – jejak  ulama & santri, sambil mendapat penjelasan untuk  menjawab pertanyaan di atas.

Sehingga kombinasi ini akan mengena, lebih membantu peserta untuk memahaminya.

  Menurut Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Yang Juga WAKIL Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Dan Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN Mengajak Seluruh siswa Guru Dan MASYARAKAT Bahwa Hari Santri dan Resolusi Jihad mengingatkan kita semua bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan buah dari pengorbanan darah, air mata, serta persatuan seluruh elemen bangsa, di mana kaum santri dan Nahdlatul Ulama memegang peran katalisator yang sangat penting.

Memperingati Hari Santri berarti merawat ingatan kolektif bangsa agar semangat jihad kebangsaan—dalam bentuk kerja keras, kejujuran, inovasi, dan pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan—terus hidup di dada setiap generasi muda Indonesia demi menyongsong masa depan bangsa yang maju dan berdaulat.

Penulis

 

      H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id            

     NO HP 083857963098