Membasuh Luka, Menjemput Rida: Sungkeman di Hari Nan Fitri
Idulfitri bukan sekadar tentang baju baru atau hidangan mewah di atas meja. Lebih dari itu, Lebaran adalah tentang kepulangan. Bukan hanya pulang secara fisik ke kampung halaman, melainkan pulangnya hati ke pelukan orang-orang tersayang. Puncak dari kepulangan ini tercermin dalam satu tradisi yang begitu syahdu: Sungkeman. Momen sungkeman seringkali menjadi saat yang paling hening di tengah keriuhan keluarga besar. Ketika lutut bersimpuh di hadapan orang tua, dan tangan mereka yang mulai keriput merengkuh kepala kita, tiba-tiba tenggorokan terasa tercekat.
Segala ego, kesuksesan di perantauan, hingga gelar yang kita sandang seolah luruh seketika. Di depan ayah dan ibu, kita kembali menjadi anak kecil yang penuh salah dan rindu.
"Sungkeman bukan sekadar tradisi formalitas, melainkan momen di mana kejujuran hati berbicara melampaui kata-kata."
Ada beberapa alasan mengapa momen ini selalu berhasil membuat mata sembap:
Penyadaran Diri: Kita diingatkan bahwa waktu terus berjalan. Melihat rambut orang tua yang kian memutih saat kita menunduk adalah pengingat bahwa kesempatan untuk berbakti tidaklah abadi.
Ruang Maaf yang Luas: Seringkali, ada ganjalan di hati yang sulit diungkapkan di hari biasa. Sungkeman menjadi "pintu darurat" untuk melepaskan segala rasa bersalah atas kata-kata yang tajam atau sikap yang kurang berkenan.
Doa yang Menembus Langit: Saat orang tua membisikkan doa di telinga kita sembari memegang bahu kita, itulah kekuatan terbesar bagi seorang anak untuk menghadapi dunia di sisa tahun mendatang.
Pada hari sabtu 21/3/2026 bertepatan dengan 1 Syawal 1447 H / 2026 M Seperti biasa Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Selepas Sholat Idul Fitri Berkumpul bersama Kakak Dan Ponakan Tercinta Merayakan Hari Raya Idul Fitri , Sebelum Kedatangan Tamu - Tamu baik tetangga ataupun Guru Guru Penulis menyempatkan Melakukan SUNGKEMAN Kepada Ayah Penulis , Kakak Kepada Ayah Penulis sekaligus Kakek Dan Penulis , Dimana Kegiatan SUNGKEMAN Ini Adalah Kegiatan Yang Selalu Ada di Keluarga Penulis
Menurut Penulis Bagi keluarga besar, sungkeman adalah lem yang merekatkan kembali keretakan. Di antara saudara sepupu, paman, dan bibi, momen saling bersalaman ini menghapus rasa iri, dengki, atau perselisihan masa lalu. Kita diingatkan bahwa kita berasal dari akar yang sama.
Di hari yang fitri ini, biarlah air mata yang jatuh saat sungkeman menjadi pembasuh noda di hati. Biarlah pelukan hangat itu menjadi penawar lelah atas segala perjuangan hidup.
Selamat Idulfitri. Mari bersimpuh, memohon ampun, dan kembali memulai segalanya dengan hati yang putih bersih
Penulis
H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963




.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)





.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)



