Minggu, 03 Mei 2026

Matematika: Membuka Gerbang Sihir di Balik Angka yang Kaku Di SMP PGRI 6 Surabaya




 

Matematika: Membuka Gerbang Sihir di Balik Angka yang Kaku

Di SMP PGRI 6 Surabaya

 

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa banyak anak merasa "alergi" terhadap matematika? Seringkali, penyebabnya bukan karena matematikanya sulit, melainkan karena cara kita memperkenalkannya. Kita cenderung menempatkan matematika di dalam kotak sempit yang berisi rumus, hafalan, dan tekanan ujian. Padahal, matematika adalah bahasa semesta. Ia bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan kode rahasia yang menggerakkan dunia. Jika kita ingin anak jatuh cinta pada matematika, kita harus berhenti mengajarinya sebagai "pelajaran" dan mulai memperkenalkannya sebagai sebuah petualangan. Berikut adalah cara mengubah pandangan anak, dari "Matematika itu membosankan" menjadi "Matematika itu ajaib!"

 

1. Menemukan Matematika dalam "Bahasa Rahasia Alam"

Dunia di sekitar kita penuh dengan pola matematika yang indah. Alih-alih menyuruh anak mengerjakan lembar kerja, ajaklah mereka keluar rumah dan menjadi "Detektif Pola".

a) Pola Fibonacci: Ajak anak mengamati kelopak bunga. Tahukah mereka bahwa jumlah kelopak bunga seringkali mengikuti pola deret angka tertentu?

b) Simetri: Lihatlah sayap kupu-kupu atau daun pakis. Matematika ada di sana, mengatur keseimbangan dan keindahan bentuk-bentuk tersebut.

c) Geometri di Langit: Arahkan pandangan ke awan, bulan, atau sarang lebah. Mereka sedang mempraktikkan geometri tanpa harus menghafal rumus luas atau keliling.

Dengan melihat pola ini, anak akan memahami bahwa matematika bukan buatan manusia yang menyiksa, melainkan aturan main alam semesta yang menakjubkan.

2. Mengubah "Bermain" Menjadi Logika Matematika

Anak-anak secara alami adalah pemecah masalah. Mereka hanya tidak sadar bahwa mereka sedang menggunakan matematika.

a. Dunia Digital (Minecraft/Roblox): Jika anak Anda suka membangun di dunia virtual, mereka sedang belajar tentang koordinat, ruang, dan perbandingan.

b. Permainan Strategi: Catur, board games, atau bahkan kartu adalah ladang subur untuk melatih logika, probabilitas, dan pengambilan keputusan.

c. Memasak Bersama: Saat mengikuti resep, anak sedang belajar pecahan, rasio, dan estimasi waktu. "Jika kita ingin membuat dua kali lipat kue, berapa banyak tepung yang kita butuhkan?" Ini jauh lebih berkesan daripada soal cerita di buku teks.

 

3. Merayakan Kesalahan sebagai Bagian dari Proses

Ini adalah bagian terpenting. Ketakutan akan matematika seringkali berakar dari ketakutan akan salah. Jadikan rumah dan lingkungan belajar sebagai tempat di mana "Salah itu Oke." Ketika anak menemukan jawaban yang salah, jangan langsung memberikan jawaban yang benar. Sebaliknya, tanyakan:

"Hmm, menarik sekali. Bagaimana kamu bisa mendapatkan angka itu? Coba kita telusuri langkah-langkahmu, ya?"

Dengan melakukan ini, kita mengajarkan bahwa matematika adalah proses berpikir, bukan sekadar hasil akhir. Ketika mereka berhenti takut salah, rasa ingin tahu akan mengambil alih, dan itulah benih dari cinta matematika.

Dalam  Membuka Gerbang Sihir di Balik Angka yang Kaku  Sekolah  Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Mata Pelajaran Matematika Selalu di ajarkan dengan Bahagia Dan Dengan Senyuman , Dimana Ibu ROHMATIA NADILA ,S.Pd   dalam mengajar Mata Pelajaran Matematika Siswa / Siswi SMP PGRI 6 Surabaya di ajak  bermain Papan IFP Dalam kesempatan ini materi yang di sampaikan yaitu STATISTIK

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni S2 MANAJEMEN Pendidikan UNESA  Mengajak Siswa  Bahwa   Matematika bukanlah tentang siapa yang paling cepat menghitung di dalam kelas. Matematika adalah tentang rasa ingin tahu.

Jika kita bisa menanamkan pola pikir bahwa setiap masalah memiliki jawaban yang bisa dicari—dan bahwa mencari jawaban tersebut adalah sebuah tantangan yang menyenangkan—maka matematika tidak akan lagi menjadi momok. Ia akan menjadi "superpower" yang mereka bawa seumur hidup.

 

Mulailah dengan hal kecil hari ini. Tanyakan pada mereka, "Menurutmu, berapa banyak langkah yang kita butuhkan untuk sampai ke toko?" dan saksikan bagaimana angka mulai berubah menjadi teman bermain mereka.

Penulis

 

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 

Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id 

    NO HP 083857963

Jumat, 01 Mei 2026

Menyalakan Pelita di Tengah Tantangan: Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2026 dan Harapan untuk Indonesia






Menyalakan Pelita di Tengah Tantangan: Refleksi

Hari Pendidikan Nasional  2026   dan Harapan untuk Indonesia

 

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia berhenti sejenak untuk mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara, sang bapak pendidikan nasional. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah momentum untuk melakukan evaluasi mendalam atas perjalanan panjang dunia pendidikan kita. Di tengah derap langkah zaman yang semakin cepat, pendidikan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Namun, pertanyaannya tetap sama: sejauh mana pendidikan kita telah benar-benar memerdekakan manusia Indonesia?

Selama puluhan tahun, Indonesia telah menempuh jalan panjang. Akses pendidikan dasar hingga menengah telah meningkat secara signifikan. Anak-anak di pelosok negeri kini lebih mudah mendapatkan akses ke sekolah, dan kurikulum terus bertransformasi untuk merespons kebutuhan dunia yang dinamis.

Namun, kita tidak bisa menutup mata dari tantangan yang masih nyata:

1) Ketimpangan Kualitas: Masih terdapat jurang yang dalam antara kualitas pendidikan di pusat kota dengan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Sarana prasarana, ketersediaan guru, hingga akses teknologi sering kali menjadi pembeda nasib siswa di satu pulau dengan pulau lainnya.

2) Kualitas Output vs. Kebutuhan Zaman: Sering kali, apa yang diajarkan di kelas belum sepenuhnya relevan dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia nyata. Fokus yang masih terlalu berat pada hafalan (kognitif) terkadang mengesampingkan pembentukan karakter dan daya kritis siswa.

3) Beban Administratif Guru: Guru sering kali terjebak dalam tumpukan administrasi, sehingga energi mereka untuk melakukan inovasi pengajaran dan mendampingi siswa secara personal menjadi terbatas.

 

Setiap Tanggal 2 Mei Seluruh insan Pendidikan yang ada di Negeri selalu merayakan dan Memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 Ini Termasuk Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Kota Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Yang Juga Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA, Dimana Mulai dari kecil hidup dalam keluarga guru yang tahu lika liku kehidupan menjadi sosok seorang guru , bahkan sampai Mama Tercinta Sebelum Meninggal Selalu berpesan kepada Penulis untuk selalu upgrade Ilmu pendidikan yang baru serta Pendidikan tidak akan maju jika tidak adanya dukungan dari Sekolah , Siswa , Wali Murid Dan Lembaga Pemerintah

Di balik refleksi tersebut, tersimpan harapan besar  Bagi Penulis yang juga Kepala Sekolah  SMP PGRI 6 Surabaya agar wajah pendidikan Indonesia menjadi lebih cerah dan inklusif. Berikut adalah beberapa poin utama yang dinanti-nantikan oleh masyarakat:

1. Pemerataan yang Nyata, Bukan Sekadar Angka

Harapan terbesar adalah agar pendidikan berkualitas tidak lagi menjadi barang mewah bagi kelompok tertentu. Setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau geografis, berhak mendapatkan akses yang sama terhadap fasilitas, teknologi, dan tenaga pendidik yang kompeten.

2. Guru sebagai Subjek Utama, Bukan Objek Administrasi

Pendidikan yang maju mustahil dicapai tanpa guru yang sejahtera dan bahagia. Guru adalah ujung tombak. Harapannya, kebijakan ke depan mampu mengurangi beban administratif yang tidak perlu, memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen, serta menjamin kesejahteraan mereka agar fokus sepenuhnya pada pembentukan karakter siswa.

3. Kurikulum yang Adaptif dan Humanis

Pendidikan masa depan harus lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikasi (4C), serta penguatan profil Pelajar Pancasila. Pendidikan harus mampu memanusiakan manusia—mengajarkan empati, etika, dan nilai-nilai luhur, bukan hanya melahirkan robot-robot pencari nilai ujian.

4. Integrasi Teknologi yang Bijak

Digitalisasi pendidikan memang krusial, namun teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti kehadiran interaksi manusia. Harapannya, teknologi dapat digunakan untuk membuka akses materi belajar terbaik bagi siswa di desa, sekaligus sebagai sarana bagi guru untuk mempersonalisasi pembelajaran bagi setiap siswa yang memiliki kecepatan belajar berbeda-beda.

Di Akhir Penulis yang Juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Berharap  Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Pemerintah menyediakan regulasi dan infrastruktur, guru menjadi pelita di dalam kelas, orang tua memberikan fondasi di rumah, dan masyarakat menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan anak-anak.

Hardiknas kali ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah kunci untuk melompat lebih jauh ke depan. Mari kita berhenti menuntut pendidikan yang sempurna, dan mulai berkontribusi secara nyata—sekecil apa pun itu—untuk memajukan pendidikan di sekitar kita. Karena di tangan generasi yang terdidik inilah, masa depan Indonesia sedang dipertaruhkan.

#Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

#"Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan

Bermutu untuk Semua"

Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id    NO HP 083857963

 

 

 

 

Selasa, 28 April 2026

Saat Cinta Mengetuk Pintu: Keajaiban di Hari Kelahiran



























 

Saat Cinta Mengetuk Pintu: Keajaiban di Hari Kelahiran

 

Ada getaran yang berbeda saat kita terbangun di pagi hari di tanggal kelahiran kita. Bukan karena dunia tiba-tiba berubah warna, melainkan karena kita menyadari bahwa hari ini, keberadaan kita di dunia sedang dirayakan.

1. Kehangatan dalam Kejutan Sederhana

Kebahagiaan sejati seringkali tidak datang dari kemewahan, melainkan dari perhatian. Saat pasangan, keluarga, atau sahabat memberikan kejutan—meski hanya sepotong roti dengan lilin kecil atau pesan singkat yang tulus tepat di pukul 00.00—ada rasa "dilihat" dan "dihargai" yang memenuhi dada.

"Di hari ini, aku menyadari bahwa kekayaan sesungguhnya bukan pada apa yang aku miliki, tapi pada siapa saja yang masih berdiri di sampingku."

2. Rasa Terharu yang Tak Terbendung

Mengapa kita sering menangis saat dinyanyikan lagu selamat ulang tahun? Itu adalah tangis syukur. Kita teringat akan masa-masa sulit yang berhasil dilewati selama setahun terakhir. Mengetahui bahwa ada orang-orang yang tetap memegang tangan kita di masa badai dan kini tersenyum paling lebar di masa bahagia kita adalah sebuah berkah yang luar biasa.

3. Doa: Hadiah Terbaik dari yang Terkasih

Dari sekian banyak kado yang dibungkus rapi, doa-doa tulus yang diucapkan adalah yang paling merasuk ke jiwa. Mendengar orang tua mendoakan kesehatan kita, atau sahabat mendoakan kesuksesan kita, menciptakan sebuah kekuatan baru untuk menghadapi tahun-tahun ke depan.

 

Mengapa Merayakan Bersama Mereka Begitu Berarti?

1) Validasi Keberadaan: Merasa dicintai membuat kita merasa berharga.

2) Penguat Ikatan: Momen ini mempererat hubungan emosional yang mungkin sempat renggang karena kesibukan.

3) Memori Abadi: Hadiah bisa rusak, tapi memori tentang tawa dan pelukan di hari ulang tahun akan tersimpan selamanya.

 

Pada 26 April  Adalah Hari yang sangat istimewa bagi penulis  yaitu bertepatan dengan hari kelahiran Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokuusmo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Yang juga Alumni S2 MANAJEMEN Pendidikan UNESA .

Pada Hari Minggu 26/4/2026 Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya  Merayakan Hari Lahir  Bersama keluarga jalan jalan pagi di Taman Bungkul Surabaya Bersama Ayah Tercinta BUDHE , Kakak Dan Keponakan Tercinta Setelah itu makan makan di WARUNG Depan Taman Bungkul

Tidak berhenti di Tanggal 26 April 2026 Perayaan Ulang Tahun Penulis yang Juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya  di rayakan di SMP PGRI 6 Surabaya dengan Pembacaan Yasin , Istighosah Dan Sholawat Oleh Guru - Guru dan Siswa / Siswi SMP PGRI 6 Surabaya di Kediaman Penulis pagi hari Senin 27 APRIL 2026 Pukul 07.00

Pada Hari Senin 27/4/2026 Pada Acara Kegiatan Pelatihan Perpustakaan Di Gedung CONVENTION Hall Lantai 4 Setelah Penulis memberikan Sambutan Ada Kejutan SURPRAISE Dari teman - Teman dengan membawakan Kue ULANG Tahun Dalam kesempatan ini Penulis merasa terharu masih banyak orang orang yang sangat sayang dan peduli kepada Penulis

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Menyampaikan Jika hari ini adalah hari kelahiranmu dan kamu dikelilingi oleh orang-orang tersayang, dekaplah momen itu erat-erat. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk dicintai dengan tulus.

Jadikan perayaan ini sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk mereka yang telah memberikan separuh hati mereka untuk merayakan hidupmu.

Selamat merayakan hari kelahiran, selamat mensyukuri kasih sayang!

Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                          

 NO HP 083857963

Senin, 27 April 2026

Transformasi Literasi: Pelatihan Manajemen Perpustakaan Strategis Menuju Akreditasi Unggul Di SMP Swasta Surabaya Utara Bersama Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Surabaya


































































 

Transformasi Literasi: Pelatihan Manajemen Perpustakaan Strategis Menuju Akreditasi Unggul Di SMP Swasta Surabaya Utara Bersama

Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan

Kota Surabaya

 

Di tengah arus digitalisasi yang tak terbendung, perpustakaan sekolah dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi "gudang buku". Menanggapi tantangan tersebut, telah sukses diselenggarakan kegiatan "Pelatihan Manajemen Perpustakaan Strategis: Menuju Perpustakaan Sekolah Berbasis Digital dan Akreditasi Unggul". Kegiatan ini dihadiri oleh para pengelola perpustakaan, guru, dan kepala sekolah yang memiliki visi seragam: menghidupkan kembali jantung literasi sekolah melalui inovasi teknologi dan standarisasi nasional.

Perpustakaan yang dikelola secara konvensional seringkali mengalami penurunan minat kunjung dari siswa generasi Z dan Alpha. Dalam pelatihan ini, ditekankan bahwa manajemen strategis bukan hanya soal menata rak, melainkan tentang:

1) Penyusunan Program Kerja Berbasis Data: Memahami kebutuhan baca siswa melalui analisis tren digital.

2) Optimalisasi Anggaran: Memastikan pengadaan koleksi tepat sasaran dan mendukung kurikulum.

3) Branding Perpustakaan: Mengubah citra perpustakaan menjadi co-working space yang nyaman dan modern.

Salah satu materi inti dalam pelatihan ini adalah transisi menuju Perpustakaan Digital. Peserta diajak untuk memahami implementasi sistem automasi perpustakaan (seperti SLiMS atau INLISlite) yang memungkinkan:

1. Katalog Online (OPAC): Siswa dapat mencari ketersediaan buku melalui smartphone.

2. Manajemen Sirkulasi Mandiri: Proses peminjaman dan pengembalian yang lebih cepat dan akurat.

3. Akses E-Book: Menyediakan koleksi digital yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja tanpa batasan fisik.

Target akhir dari pelatihan ini adalah kesiapan sekolah dalam menghadapi akreditasi perpustakaan dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Akreditasi bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan sebuah pengakuan atas kualitas layanan. Indikator utama yang dibahas meliputi:

1) Koleksi perpustakaan (kesesuaian dengan kurikulum).

2) Sarana dan prasarana (kenyamanan dan aksesibilitas).

3) Tenaga perpustakaan (kompetensi dan sertifikasi).

4) Inovasi dan kreativitas layanan.

 

"Perpustakaan sekolah adalah investasi masa depan yang harus dimiliki oleh Sekolah Khususnya Sekolah Swasta dalam membranding mempersiapkan SPMB  Tahun 2026/2026 , Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Swasta ( MKKS SMP Swasta Surabaya Utara ) Pada Hari Senin 27/4/2026 mengadakan  Kegiatan Pelatihan Manajemen     Perpustakaan Modern 2026 Yang diadakan di  Gedung CONVENTION HALL  Lantai IV   Jl. Tunjungan No. 1-3 (Gedung Siola) Lantai 4, Surabaya Dimulai Pukul 09.00. Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara  Yang Juga Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Menyampaikan dalam sambutannya "Perpustakaan sekolah adalah investasi masa depan. Dengan sistem digital yang mumpuni dan manajemen yang strategis, kita tidak hanya mengejar nilai akreditasi 'A', tapi kita sedang membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang relevan dengan zaman.", Di samping itu Penulis berharap Setelah pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat melakukan audit internal di perpustakaan masing-masing dan mulai menerapkan rencana aksi (action plan) jangka pendek. Transformasi menuju perpustakaan digital adalah perjalanan berkelanjutan yang memerlukan kolaborasi antara pengelola, pimpinan sekolah, dan seluruh siswa. Dengan semangat baru, perpustakaan sekolah siap bertransformasi dari pusat tumpukan kertas menjadi pusat inovasi dan inspirasi digital. Dalam Kesempatan tersebut Turut hadir dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya Di wakili Bapak SUFYAN ,S.Pd , M.Si Selaku Kepala Bidang Sekolah Dasar  Dan Dari Dinas Perpustakaan Di Wakili Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Surabaya.

Dalam kesempatan Ini Materi yang di samapaikan yaitu : Standar Nasional Perpustakaan  Dan Akreditasi Perpustakaan Oleh Mohammad Arif, S.Sos , Nomor Pokok Perpustakaan (NPP)  Di sampaikan Oleh Ali Bustomi Dan Aplikasi Inlislite untuk Perpustakaan  di sampaikan oleh Sugiharto Rodly, SE  dan Dita Widiyanti Safitri.

Dalam kesempatan ini Penulis menyerahkan Buku Karya Penulis di serahkan kepada Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Surabaya Bapak Ir . H. YUSUF MASRUH ,MM  Dan Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya Bapak SUFYAN ,S.Pd , M.Si , Dalam  kesempatan ini Penulis yang Juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Di Berikan SURPRAISE Kue ULANG TAHUN Dari Bapak / Ibu Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Yang Di Serahkan Oleh Bapak Ir . H. YUSUF MASRUH ,MM

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN Menyampaikan Setelah pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat melakukan audit internal di perpustakaan masing-masing dan mulai menerapkan rencana aksi (action plan) jangka pendek. Transformasi menuju perpustakaan digital adalah perjalanan berkelanjutan yang memerlukan kolaborasi antara pengelola, pimpinan sekolah, dan seluruh siswa.

Dengan semangat baru, perpustakaan sekolah siap bertransformasi dari pusat tumpukan kertas menjadi pusat inovasi dan inspirasi digital.

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                          

 NO HP 083857963