Rabu, 01 April 2026

Selamat Tinggal Rumput Liar: Menata Estetika Sekolah dengan Solusi Cerdas












 Selamat Tinggal Rumput Liar: Menata Estetika Sekolah

dengan Solusi Cerdas

Halaman sekolah adalah wajah dari institusi pendidikan kita. Namun, sering kali keindahan itu tertutup oleh pertumbuhan rumput liar yang tak terkendali di sela-sela lapangan, paving block, dan jalur pejalan kaki. Menanggapi hal tersebut, sekolah kita baru saja menyelesaikan program sterilisasi lahan dari gulma. Kini, kita resmi mengucapkan selamat tinggal pada rumput liar berkat penggunaan metode pembasmi rumput yang efektif.

Mengapa Memilih Pembasmi Rumput?

Selama ini, metode mencabut rumput secara manual sering kali memakan waktu lama dan tenaga yang besar, namun rumput kembali tumbuh hanya dalam hitungan hari karena akarnya yang tertinggal. Penggunaan cairan pembasmi rumput (herbisida) yang terukur menjadi pilihan karena beberapa alasan:

Efisiensi Waktu: Area yang luas dapat dibersihkan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Hingga ke Akar: Formula pembasmi rumput bekerja secara sistemik, memastikan gulma mati hingga ke bagian terdalam sehingga tidak cepat tumbuh kembali.

Menjaga Infrastruktur: Rumput yang tumbuh di sela-sela beton atau dinding jika dibiarkan dapat merusak struktur bangunan. Pembasmi rumput membantu menghentikan kerusakan tersebut secara dini.

 

Keamanan Tetap Menjadi Prioritas

Pelaksanaan penyemprotan dilakukan dengan prosedur standar keamanan yang ketat. Dilakukan pada akhir pekan saat tidak ada aktivitas belajar mengajar, penyemprotan ini memastikan bahwa area tersebut sudah aman kembali saat siswa masuk di hari Senin. Penggunaan produk yang ramah lingkungan juga menjadi pertimbangan utama agar tidak mencemari tanah dan tanaman hias lainnya.

Transformasi Visual yang Nyata

Perbedaan sebelum dan sesudah sangat mencolok. Area yang dulunya terlihat kusam dan tidak terawat kini nampak bersih dan luas. Tanpa gangguan rumput liar, taman-taman sekolah kini terlihat lebih menonjol, dan lapangan olahraga kita siap digunakan dengan kenyamanan maksimal.

Langkah Selanjutnya: Hijaukan dengan Tanaman Pilihan

"Selamat tinggal rumput liar" bukan berarti kita menghilangkan unsur hijau di sekolah. Justru, pembersihan ini adalah langkah awal untuk menata ulang taman. Setelah lahan bersih, kita memiliki ruang untuk menanam tanaman yang lebih bermanfaat, seperti tanaman obat keluarga (TOGA) atau bunga hias yang memang kita inginkan keberadaannya.

Mari Menjaga Bersama

Halaman yang bersih dari rumput liar kini memberikan atmosfer baru yang lebih segar bagi kita untuk belajar dan beraktivitas. Tugas kita sekarang adalah memastikan tidak ada sampah yang mengotori halaman yang sudah rapi ini. Dengan lingkungan yang tertata, semangat belajar pun akan tumbuh lebih subur. Mari kita apresiasi halaman sekolah yang baru ini dengan menjaganya tetap asri dan rapi!

Dalam  rangka Menata Estetika Sekolah dengan Solusi Cerdas di Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan  Semampir Pada hari Rabu 1/4/2026 melakukan pembersihan Rumput di Halaman Sekolah , Bapak Hasan  Tetangga Depan Sekolah Pukul 16.00 Melakukan Penyemprotan Rumput Di Halaman Sekolah SMP PGRI 6 Surabaya ,

 Alhamdulilah CAIRAN Pembasmi Rumput nya di belikan oleh Teman Penulis yaitu Ibu FEBRINA KUSUMA DEWI ,S.Pd  Kepala SMP TRIGUNA BHAKTI Surabaya  Alhamdulilah Tadi diantarkan Oleh Ibu FEBRINA KUSUMA DEWI ,S.Pd  Kepala SMP TRIGUNA BHAKTI Surabaya Ke SMP PGRI 6 Surabaya

Daam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Dan Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara  Menyampaikan dengan Kegiatan Sore Hari Ini Bersih Lingkungannya, Jernih Pikirannya!

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

 NO HP 083857963

 

Selasa, 31 Maret 2026

TKA (Tes Kendali Mutu atau Tes Kompetensi Akademik) bagi kelas 9 bukan sekadar ujian akhir, melainkan gerbang strategis untuk menentukan jalur sekolah lanjutan (SMA/SMK) melalui jalur prestasi.















 


TKA (Tes Kendali Mutu atau Tes Kompetensi Akademik) bagi kelas 9 bukan sekadar ujian akhir, melainkan gerbang strategis untuk menentukan jalur sekolah lanjutan (SMA/SMK) melalui jalur prestasi.

 

TKA (Tes Kendali Mutu atau Tes Kompetensi Akademik) bagi kelas 9 bukan sekadar ujian akhir, melainkan gerbang strategis untuk menentukan jalur sekolah lanjutan (SMA/SMK) melalui jalur prestasi. Menghadapi momen ini butuh kombinasi antara ketajaman otak, manajemen waktu, dan ketenangan mental. Berikut adalah panduan persiapan komprehensif untuk menjadikan TKA sebagai panggung prestasi Anda:

 

1. Strategi Akademik: "Belajar Cerdas, Bukan Sekadar Keras"

Jangan terjebak membaca ribuan halaman buku tanpa arah. Gunakan pendekatan target:

Bedah Kisi-kisi: Fokuslah pada materi yang memiliki bobot soal terbesar dalam 3 tahun terakhir.

Metode Active Recall: Jangan hanya membaca. Cobalah menjelaskan konsep (misalnya, Hukum Newton atau struktur teks laporan) kepada teman atau bahkan cermin. Jika Anda bisa menjelaskannya dengan simpel, berarti Anda sudah paham.

Latihan Soal Berbasis Waktu: Kerjakan try out dengan alarm. Ini melatih otak untuk tetap tenang meski di bawah tekanan waktu.

 

2. Manajemen Waktu dengan Teknik Blok

Waktu adalah aset paling berharga menjelang TKA. Hindari sistem kebut semalam (SKS) yang hanya membuat otak lelah tanpa menyimpan informasi di memori jangka panjang

Menjaga "Mesin" Tubuh dan Mental

Prestasi tidak akan maksimal jika kondisi fisik menurun. Ingat, otak Anda membutuhkan nutrisi dan istirahat untuk bekerja optimal.

· 

Tidur Berkualitas: Tidur 7-8 jam membantu proses konsolidasi memori (pemindahan informasi dari memori jangka pendek ke jangka panjang).

Hidrasi & Nutrisi: Otak terdiri dari sekitar 75% air. Dehidrasi ringan saja bisa menurunkan fokus hingga 10%.

Kelola Stres: Lakukan teknik pernapasan kotak (box breathing) jika mulai merasa cemas saat melihat soal yang sulit.

 

4. TKA sebagai Tiket Jalur Prestasi

Penting untuk memahami bahwa nilai TKA yang tinggi adalah investasi. Dalam sistem SPMB  (Penerimaan Peserta Didik Baru), nilai ini seringkali menjadi penentu utama jika Anda membidik sekolah favorit melalui:

Jalur Prestasi Nilai Rapor/Akademik.

Pemeringkatan paralel di tingkat sekolah.

Dalam rangka mempersiapkan TKA Yang kurang 1 minggu  Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pada Hari Senin - Selasa  30-31 Maret 2026  Siswa Kelas 9 Di persiapkan dengan Matang  untuk Pelaksanaan TKA Tersebut Dimana   Untuk Mempersiapkan TKA Tersebut SMP PGRI 6 Surabaya melakukan Simulasi  Pengawas RUANG TKA Diberikan LAPTOP Yang ada KAMERA NYA Menghadap Ke Pengawas  Dan HP Yang mengarah Ke PESERTA Dan RUANGAN

Tujuan dari Kegiatan Ini adalah Untuk Mempersiapkan TKA Dan KEJUJURAN

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Mengajak  Siswa Prestasi bukan hanya tentang angka, tapi tentang pembuktian disiplin diri yang telah Anda bangun selama tiga tahun di SMP.

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

 NO HP 083857963

 

Kamis, 26 Maret 2026

Di Balik Spidol yang Meluruh: Mengapa Sejahtera Adalah Hak, Bukan Hadiah bagi Guru



 

Di Balik Spidol  yang Meluruh: Mengapa Sejahtera Adalah Hak,

Bukan Hadiah bagi Guru

 

Pernahkah kita sejenak menatap punggung seorang guru yang berjalan pulang saat matahari mulai meredup? Di dalam tasnya, bukan hanya ada tumpukan buku tugas yang harus dikoreksi hingga larut malam, tetapi juga beban pikiran tentang bagaimana mencukupkan dapur yang kian hari kian menantang. Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, mungkinkah predikat itu justru menjadi "belenggu" yang membuat kita abai pada kemanusiaan mereka? Menuntut kesejahteraan guru bukan semata-mata tentang kenaikan angka di atas kertas slip gaji. Ini adalah tentang martabat. Pikiran yang Tenang, Pendidikan yang Cemerlang: Bagaimana mungkin seorang guru bisa memberikan energi positif dan inspirasi maksimal di kelas, jika di saat yang sama ia harus memutar otak mencari pinjaman untuk biaya sekolah anaknya sendiri?

a) Dedikasi yang Tak Terbayar: Guru adalah profesi yang tidak pernah benar-benar "pulang" kerja. Saat di rumah, mereka menjadi kurator masa depan, merancang modul, dan mendoakan murid-muridnya satu per satu.

b) Investasi Bangsa: Kita mempercayakan harta paling berharga kita—anak-anak kita—kepada mereka. Namun, ironisnya, kita sering kali memberikan apresiasi yang jauh dari cukup bagi mereka yang menjaga harta tersebut.

Berstatus honorer/ GTT   di pelosok negeri, harus menyambi menjadi pengemudi ojek daring, berjualan gorengan, hingga buruh tani demi menyambung hidup. Mereka melakukan itu tanpa kehilangan senyum di depan murid-muridnya. Mereka tetap berdiri tegak, mengajarkan tentang kejujuran dan kerja keras, meski dunia seolah tidak adil pada mereka.Banyak guru, terutama mereka yang  "Sejahtera bagi seorang guru berarti mereka tidak perlu lagi memilih antara membeli buku referensi baru atau membeli beras untuk keluarga."

Kesejahteraan adalah bentuk pengakuan bahwa tugas mereka membangun peradaban adalah tugas yang sangat berat dan mulia. Saat guru sejahtera, mereka memiliki ruang untuk bertumbuh, berinovasi, dan mencintai profesinya tanpa dihantui rasa cemas akan hari esok. Memuliakan guru adalah cara paling elegan untuk memuliakan masa depan bangsa. Kita tidak ingin melihat lagi ada guru yang di masa tuanya harus hidup dalam kesulitan, padahal ribuan muridnya telah menjadi orang-orang hebat yang memegang kendali negeri. Sudah saatnya kata "layak" menjadi standar nyata, bukan sekadar janji di podium. Karena pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas hanya bisa lahir dari tangan-tangan guru yang hatinya tenang dan hidupnya tercukupi.

Mari kita berhenti meromantisasi kemiskinan guru dan mulai memperjuangkan

 hak mereka untuk hidup sejahtera.

 

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

 NO HP 083857963

Selasa, 24 Maret 2026

Kehangatan Silaturahmi di Hari Keempat Lebaran: Menjelajah Makna dan Lontong Balap yang Menggoda



















Kehangatan Silaturahmi di Hari Keempat Lebaran: Menjelajah Makna dan Lontong Balap yang Menggoda

 

Hari keempat Lebaran seringkali menjadi momen di mana semarak Idulfitri mulai beralih dari kumpul keluarga inti menuju ekspansi jalinan kekerabatan yang lebih luas. Di tengah hiruk pikuk kunjungan, ada satu tradisi yang tak lekang oleh waktu dan membawa makna mendalam: silaturahmi sambang saudara yang sedang diuji sakit. Tradisi ini bukan hanya tentang menjaga hubungan, tetapi juga tentang berbagi empati, kekuatan, dan doa.

Makna Mendalam Silaturahmi di Tengah Ujian

Bagi sebagian orang, Lebaran mungkin terasa kurang lengkap karena adanya anggota keluarga yang harus terbaring sakit. Di sinilah peran penting silaturahmi di hari keempat Lebaran. Mengunjungi sanak saudara yang sedang diuji sakit bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang tulus. Ini adalah wujud nyata dari pepatah "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."

Kehadiran kita, meskipun sebentar, bisa menjadi obat penenang dan penyemangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Obrolan ringan, doa tulus, dan bahkan sekadar tatapan mata yang penuh kasih sayang dapat memberikan energi positif. Ini mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian, bahwa ada keluarga yang peduli dan selalu ada untuk mendukung. Momen ini juga menjadi refleksi bagi kita akan pentingnya kesehatan dan rasa syukur atas nikmat yang masih diberikan.

Setelah mengunjungi sanak saudara yang diuji sakit, ada baiknya momen silaturahmi dilanjutkan dengan menikmati kuliner khas daerah. Di beberapa kota, khususnya Surabaya, hidangan Lontong Balap menjadi pilihan yang tak hanya mengenyangkan tetapi juga menyimpan cerita.

Lontong Balap, dengan kuahnya yang kaya rasa, tauge segar, lentho (perkedel singkong), sate kerang, dan taburan bawang goreng, adalah perpaduan sempurna antara rasa gurih, pedas, dan sedikit manis. Nama "balap" konon berasal dari penjualnya yang dulunya saling berkejaran cepat agar dagangannya laku. Kini, Lontong Balap bukan hanya sekadar makanan; ia adalah simbol kebersamaan, nostalgia, dan kekayaan kuliner Nusantara.

Mampir menikmati Lontong Balap bersama keluarga atau kerabat setelah bersilaturahmi, khususnya setelah menjenguk saudara yang sedang sakit, akan menambah kehangatan. Aktivitas ini menjadi penutup yang manis dan penuh makna. Hidangan ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi medium untuk mempererat kembali ikatan, berbagi cerita, dan menertawakan hal-hal kecil yang mungkin terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari.

Lebaran 1447  Hari Ke empat yang bertepatan dengan Hari Selasa 25/3/2026 Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA  Bersama Keluarga Tercinta Penulis Berangkat Pukul 08.00 melaksanakan Silahturahmi Ke saudara Di PUCANGAN GANG IV , Tapi Sebelum ke Rumah Saudara Silah Turahmi Penulis dan Keluarga mampir Ke LONTONG BALAP  BROMO  Untuk Sarapan Pagi bersa,ma, Selesai Sarapan LONTONG BALAP Penulis dan Keluarga berangkat menuju PUCANGAN

Silaturahmi di hari keempat Lebaran, terutama dengan menyambangi saudara yang sedang berjuang melewati masa sakit, adalah sebuah investasi emosional yang tak ternilai harganya. Ia mengajarkan kita empati, kepedulian, dan kekuatan kasih sayang keluarga. Ditambah dengan kelezatan Lontong Balap, tradisi ini bukan hanya soal merayakan kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang merawat jiwa dan menguatkan ikatan yang telah terjalin. Semoga kita semua selalu diberikan kesempatan untuk terus menjaga tali silaturahmi.

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

 NO HP 083857963

 

 

 

 

Senin, 23 Maret 2026

Di Balik Wangi Kamboja: Menemu Rindu pada Hari Ketiga Lebaran














 


Di Balik Wangi Kamboja: Menemu Rindu pada Hari Ketiga Lebaran

 

Gema takbir mungkin sudah mulai melandai, dan keriuhan opor serta ketupat di meja makan perlahan menyusut. Namun, bagi banyak keluarga, Lebaran hari ketiga justru menjadi momen yang paling sakral secara emosional. Inilah saatnya melangkah menjauh dari hiruk-pikuk silaturahmi antar-rumah menuju sebuah tempat yang sunyi namun sarat makna: makam ibunda tercinta dan para leluhur.

Istilah sambang atau ziarah kubur setelah hari raya bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah bentuk "sowan" atau kunjungan kehormatan kepada mereka yang telah mendahului kita. Jika hari pertama dan kedua kita sibuk bermaaf-maafan dengan yang masih ada, maka hari ketiga adalah waktu khusus untuk menyapa mereka yang ruhnya tetap hidup dalam ingatan kita.

Berdiri di depan pusara Mama tercinta selalu menghadirkan rasa yang campur aduk. Ada rasa sesak yang samar, namun ada kedamaian yang mendalam. Di sana, di antara nisan yang dingin, kita seolah kembali menjadi anak kecil yang ingin mengadu tentang kerasnya hidup setahun belakangan.

Taburan Bunga dan Air Mawar: Setiap helai kelopak mawar dan melati yang ditebar adalah simbol doa yang tak putus.

Lantunan Doa: Membaca Surah Yasin atau tahlil di sisi makam Mama terasa seperti percakapan spiritual yang melampaui dimensi dunia.

Mengingat Pesan: Sembari membersihkan rumput liar di sekitar nisan, ingatan kita biasanya berputar pada masakan Lebaran favorit Mama atau nasehat-nasehat kecilnya yang dulu sering kita abaikan.

 

Setelah dari makam Mama, langkah kaki berlanjut menuju komplek pemakaman para leluhur. Mengunjungi makam kakek, nenek, hingga buyut adalah pengingat tentang asal-usul. Ziarah ke makam leluhur menyadarkan kita bahwa kita adalah rantai dari sebuah silsilah panjang. Keberadaan kita hari ini adalah buah dari doa dan perjuangan mereka di masa lalu. Ini adalah momen edukasi bagi generasi muda agar mereka tidak "kepaten obor" atau kehilangan jejak sejarah keluarganya sendiri.

"Ziarah bukan tentang mendatangi kematian, melainkan merayakan kehidupan yang pernah ada dan memetik pelajaran dari mereka yang telah pulang."

Pada Hari Senin 23/3/2026 bertepatan dengan hari ketiga Lebaran 1447 H /2026 M Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pukul 16.00  bersama Ayah Penulis Kakak Dan Ponakan Tercinta mengunjungi Makam Mama Tercinta Kakek Nenek Dan BUYUT Yang di makam kan Di 1 Lokasi Di Tempat Pemakaman UMUM RANGKAH Surabaya  Di dampingi Ustad ROCHIM Yang juga Guru Ngaji dari Ponakan Tercinta  untuk Memimpin Pembacaan Yasin Dan Tahlil Di Makam Mama Tercinta, Selepas Pembacaan Yasin Dan TAHLIL Kakak Penulis Menaburkan Bunga Di Makam Mama Tercinta Dan Di Makam Leluhur dari Penulis

 

Pulang dari pemakaman di hari ketiga Lebaran biasanya membawa perasaan yang berbeda. Ada rasa lega karena telah menunaikan tugas kasih sayang, dan ada semangat baru untuk menjalani hidup dengan lebih baik—seperti yang diinginkan oleh Mama dan para leluhur kita.

Lebaran memang tentang kemenangan, dan kemenangan sejati adalah saat kita tetap mampu menjaga ikatan cinta, bahkan dengan mereka yang sudah tidak lagi bisa kita peluk raganya.

 

 Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

  NO HP 083857963

Minggu, 22 Maret 2026

Hangatnya Silaturahmi: Merayakan Hari Kedua Idul Fitri 1447 H Bersama Keluarga










 

Hangatnya Silaturahmi: Merayakan Hari Kedua Idul Fitri 1447 H Bersama Keluarga

Gema takbir mungkin sudah berganti dengan riuh tawa di ruang tamu, namun esensi kemenangan tetap terasa kental. Memasuki hari kedua Hari Raya Idul Fitri 1447 H, suasana biasanya terasa jauh lebih rileks dan intim. Jika hari pertama penuh dengan kekhusyukan salat Ied dan sungkeman, hari kedua adalah waktunya "merayakan" kebersamaan dalam arti yang paling santai.

1. Aroma Dapur yang Tak Kunjung Padam

Di hari kedua, meja makan masih menjadi pusat gravitasi. Ketupat, rendang, dan opor ayam tetap menjadi primadona, namun biasanya muncul menu-menu "penyelamat" seperti bakso atau mi ayam untuk mengimbangi hidangan bersantan. Menikmati hidangan sisa semalam bersama-sama justru sering kali terasa lebih nikmat karena bumbu yang sudah semakin meresap dan obrolan yang semakin mengalir.

2. Ruang Tamu: Panggung Cerita dan Tawa

Inilah saatnya mendengar cerita dari sanak saudara yang merantau. Dari kisah sukses, cerita lucu di perantauan, hingga petuah dari para tetua. Tidak ada yang bisa mengalahkan kualitas waktu saat seluruh anggota keluarga—dari kakek nenek hingga cucu terkecil—berkumpul di satu karpet yang sama, berbagi kebahagiaan tanpa sekat gadget.

3. Tradisi yang Menyatukan Generasi

Momen hari kedua sering kali diisi dengan:

Sesi Foto "Random": Jika hari pertama fotonya formal dengan baju seragam, hari kedua biasanya penuh dengan foto candid dan video seru untuk konten media sosial.

Pembagian "Angpao" Tahap Dua: Bagi anak-anak, ini adalah momen yang paling dinanti saat paman dan bibi baru sempat berkunjung hari ini.

Rencana Liburan Singkat: Mulai muncul ide-ide spontan untuk mengunjungi tempat wisata lokal atau sekadar nonton film bareng di bioskop

 

Memasuki hari kedua lebaran 1447 H/ 2026 M Pada hari Minggu 22/3/2026 Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya  Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA kedatangan Saudara Ponak - Ponakan Silahturahmi di Kediaman Penulis , Dalam kesempatan ini  Penulis memberikan Hidangan CAP JAY  Goreng Dan Ayam OPOR Dan LONTONG  Ketupat Serta Tidak Lupa Es Sirup , Dalam  kesempatan ini Keponakan Penulis PANEN DEGAN Langsung di ambil dari POHON Dan LANGSUNG Diminum  Segar Banget

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Mengajak  Dan Menyampaikan Idul Fitri 1447 H mengingatkan kita bahwa harta paling berharga bukanlah apa yang kita kenakan, melainkan siapa yang ada di samping kita. Kesempatan untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih adalah kado terbaik di hari yang fitri ini.

Selamat merayakan hari kedua Lebaran! Mari simpan memori indah ini sebagai bekal semangat untuk hari-hari mendatang.

Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

  NO HP 083857963