Di Balik Spidol yang Meluruh: Mengapa Sejahtera Adalah Hak,
Bukan Hadiah bagi Guru
Pernahkah kita sejenak menatap punggung seorang guru yang berjalan pulang saat matahari mulai meredup? Di dalam tasnya, bukan hanya ada tumpukan buku tugas yang harus dikoreksi hingga larut malam, tetapi juga beban pikiran tentang bagaimana mencukupkan dapur yang kian hari kian menantang. Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, mungkinkah predikat itu justru menjadi "belenggu" yang membuat kita abai pada kemanusiaan mereka? Menuntut kesejahteraan guru bukan semata-mata tentang kenaikan angka di atas kertas slip gaji. Ini adalah tentang martabat. Pikiran yang Tenang, Pendidikan yang Cemerlang: Bagaimana mungkin seorang guru bisa memberikan energi positif dan inspirasi maksimal di kelas, jika di saat yang sama ia harus memutar otak mencari pinjaman untuk biaya sekolah anaknya sendiri?
a) Dedikasi yang Tak Terbayar: Guru adalah profesi yang tidak pernah benar-benar "pulang" kerja. Saat di rumah, mereka menjadi kurator masa depan, merancang modul, dan mendoakan murid-muridnya satu per satu.
b) Investasi Bangsa: Kita mempercayakan harta paling berharga kita—anak-anak kita—kepada mereka. Namun, ironisnya, kita sering kali memberikan apresiasi yang jauh dari cukup bagi mereka yang menjaga harta tersebut.
Berstatus honorer/ GTT di pelosok negeri, harus menyambi menjadi pengemudi ojek daring, berjualan gorengan, hingga buruh tani demi menyambung hidup. Mereka melakukan itu tanpa kehilangan senyum di depan murid-muridnya. Mereka tetap berdiri tegak, mengajarkan tentang kejujuran dan kerja keras, meski dunia seolah tidak adil pada mereka.Banyak guru, terutama mereka yang "Sejahtera bagi seorang guru berarti mereka tidak perlu lagi memilih antara membeli buku referensi baru atau membeli beras untuk keluarga."
Kesejahteraan adalah bentuk pengakuan bahwa tugas mereka membangun peradaban adalah tugas yang sangat berat dan mulia. Saat guru sejahtera, mereka memiliki ruang untuk bertumbuh, berinovasi, dan mencintai profesinya tanpa dihantui rasa cemas akan hari esok. Memuliakan guru adalah cara paling elegan untuk memuliakan masa depan bangsa. Kita tidak ingin melihat lagi ada guru yang di masa tuanya harus hidup dalam kesulitan, padahal ribuan muridnya telah menjadi orang-orang hebat yang memegang kendali negeri. Sudah saatnya kata "layak" menjadi standar nyata, bukan sekadar janji di podium. Karena pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas hanya bisa lahir dari tangan-tangan guru yang hatinya tenang dan hidupnya tercukupi.
Mari kita berhenti meromantisasi kemiskinan guru dan mulai memperjuangkan
hak mereka untuk hidup sejahtera.
Penulis
H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963





.jpeg)











.jpeg)











.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)






.jpeg)

.jpeg)
