Selasa, 24 Maret 2026

Kehangatan Silaturahmi di Hari Keempat Lebaran: Menjelajah Makna dan Lontong Balap yang Menggoda



















Kehangatan Silaturahmi di Hari Keempat Lebaran: Menjelajah Makna dan Lontong Balap yang Menggoda

 

Hari keempat Lebaran seringkali menjadi momen di mana semarak Idulfitri mulai beralih dari kumpul keluarga inti menuju ekspansi jalinan kekerabatan yang lebih luas. Di tengah hiruk pikuk kunjungan, ada satu tradisi yang tak lekang oleh waktu dan membawa makna mendalam: silaturahmi sambang saudara yang sedang diuji sakit. Tradisi ini bukan hanya tentang menjaga hubungan, tetapi juga tentang berbagi empati, kekuatan, dan doa.

Makna Mendalam Silaturahmi di Tengah Ujian

Bagi sebagian orang, Lebaran mungkin terasa kurang lengkap karena adanya anggota keluarga yang harus terbaring sakit. Di sinilah peran penting silaturahmi di hari keempat Lebaran. Mengunjungi sanak saudara yang sedang diuji sakit bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang tulus. Ini adalah wujud nyata dari pepatah "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."

Kehadiran kita, meskipun sebentar, bisa menjadi obat penenang dan penyemangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Obrolan ringan, doa tulus, dan bahkan sekadar tatapan mata yang penuh kasih sayang dapat memberikan energi positif. Ini mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian, bahwa ada keluarga yang peduli dan selalu ada untuk mendukung. Momen ini juga menjadi refleksi bagi kita akan pentingnya kesehatan dan rasa syukur atas nikmat yang masih diberikan.

Setelah mengunjungi sanak saudara yang diuji sakit, ada baiknya momen silaturahmi dilanjutkan dengan menikmati kuliner khas daerah. Di beberapa kota, khususnya Surabaya, hidangan Lontong Balap menjadi pilihan yang tak hanya mengenyangkan tetapi juga menyimpan cerita.

Lontong Balap, dengan kuahnya yang kaya rasa, tauge segar, lentho (perkedel singkong), sate kerang, dan taburan bawang goreng, adalah perpaduan sempurna antara rasa gurih, pedas, dan sedikit manis. Nama "balap" konon berasal dari penjualnya yang dulunya saling berkejaran cepat agar dagangannya laku. Kini, Lontong Balap bukan hanya sekadar makanan; ia adalah simbol kebersamaan, nostalgia, dan kekayaan kuliner Nusantara.

Mampir menikmati Lontong Balap bersama keluarga atau kerabat setelah bersilaturahmi, khususnya setelah menjenguk saudara yang sedang sakit, akan menambah kehangatan. Aktivitas ini menjadi penutup yang manis dan penuh makna. Hidangan ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi medium untuk mempererat kembali ikatan, berbagi cerita, dan menertawakan hal-hal kecil yang mungkin terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari.

Lebaran 1447  Hari Ke empat yang bertepatan dengan Hari Selasa 25/3/2026 Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA  Bersama Keluarga Tercinta Penulis Berangkat Pukul 08.00 melaksanakan Silahturahmi Ke saudara Di PUCANGAN GANG IV , Tapi Sebelum ke Rumah Saudara Silah Turahmi Penulis dan Keluarga mampir Ke LONTONG BALAP  BROMO  Untuk Sarapan Pagi bersa,ma, Selesai Sarapan LONTONG BALAP Penulis dan Keluarga berangkat menuju PUCANGAN

Silaturahmi di hari keempat Lebaran, terutama dengan menyambangi saudara yang sedang berjuang melewati masa sakit, adalah sebuah investasi emosional yang tak ternilai harganya. Ia mengajarkan kita empati, kepedulian, dan kekuatan kasih sayang keluarga. Ditambah dengan kelezatan Lontong Balap, tradisi ini bukan hanya soal merayakan kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga tentang merawat jiwa dan menguatkan ikatan yang telah terjalin. Semoga kita semua selalu diberikan kesempatan untuk terus menjaga tali silaturahmi.

Penulis

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

 NO HP 083857963

 

 

 

 

Senin, 23 Maret 2026

Di Balik Wangi Kamboja: Menemu Rindu pada Hari Ketiga Lebaran














 


Di Balik Wangi Kamboja: Menemu Rindu pada Hari Ketiga Lebaran

 

Gema takbir mungkin sudah mulai melandai, dan keriuhan opor serta ketupat di meja makan perlahan menyusut. Namun, bagi banyak keluarga, Lebaran hari ketiga justru menjadi momen yang paling sakral secara emosional. Inilah saatnya melangkah menjauh dari hiruk-pikuk silaturahmi antar-rumah menuju sebuah tempat yang sunyi namun sarat makna: makam ibunda tercinta dan para leluhur.

Istilah sambang atau ziarah kubur setelah hari raya bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah bentuk "sowan" atau kunjungan kehormatan kepada mereka yang telah mendahului kita. Jika hari pertama dan kedua kita sibuk bermaaf-maafan dengan yang masih ada, maka hari ketiga adalah waktu khusus untuk menyapa mereka yang ruhnya tetap hidup dalam ingatan kita.

Berdiri di depan pusara Mama tercinta selalu menghadirkan rasa yang campur aduk. Ada rasa sesak yang samar, namun ada kedamaian yang mendalam. Di sana, di antara nisan yang dingin, kita seolah kembali menjadi anak kecil yang ingin mengadu tentang kerasnya hidup setahun belakangan.

Taburan Bunga dan Air Mawar: Setiap helai kelopak mawar dan melati yang ditebar adalah simbol doa yang tak putus.

Lantunan Doa: Membaca Surah Yasin atau tahlil di sisi makam Mama terasa seperti percakapan spiritual yang melampaui dimensi dunia.

Mengingat Pesan: Sembari membersihkan rumput liar di sekitar nisan, ingatan kita biasanya berputar pada masakan Lebaran favorit Mama atau nasehat-nasehat kecilnya yang dulu sering kita abaikan.

 

Setelah dari makam Mama, langkah kaki berlanjut menuju komplek pemakaman para leluhur. Mengunjungi makam kakek, nenek, hingga buyut adalah pengingat tentang asal-usul. Ziarah ke makam leluhur menyadarkan kita bahwa kita adalah rantai dari sebuah silsilah panjang. Keberadaan kita hari ini adalah buah dari doa dan perjuangan mereka di masa lalu. Ini adalah momen edukasi bagi generasi muda agar mereka tidak "kepaten obor" atau kehilangan jejak sejarah keluarganya sendiri.

"Ziarah bukan tentang mendatangi kematian, melainkan merayakan kehidupan yang pernah ada dan memetik pelajaran dari mereka yang telah pulang."

Pada Hari Senin 23/3/2026 bertepatan dengan hari ketiga Lebaran 1447 H /2026 M Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pukul 16.00  bersama Ayah Penulis Kakak Dan Ponakan Tercinta mengunjungi Makam Mama Tercinta Kakek Nenek Dan BUYUT Yang di makam kan Di 1 Lokasi Di Tempat Pemakaman UMUM RANGKAH Surabaya  Di dampingi Ustad ROCHIM Yang juga Guru Ngaji dari Ponakan Tercinta  untuk Memimpin Pembacaan Yasin Dan Tahlil Di Makam Mama Tercinta, Selepas Pembacaan Yasin Dan TAHLIL Kakak Penulis Menaburkan Bunga Di Makam Mama Tercinta Dan Di Makam Leluhur dari Penulis

 

Pulang dari pemakaman di hari ketiga Lebaran biasanya membawa perasaan yang berbeda. Ada rasa lega karena telah menunaikan tugas kasih sayang, dan ada semangat baru untuk menjalani hidup dengan lebih baik—seperti yang diinginkan oleh Mama dan para leluhur kita.

Lebaran memang tentang kemenangan, dan kemenangan sejati adalah saat kita tetap mampu menjaga ikatan cinta, bahkan dengan mereka yang sudah tidak lagi bisa kita peluk raganya.

 

 Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

  NO HP 083857963

Minggu, 22 Maret 2026

Hangatnya Silaturahmi: Merayakan Hari Kedua Idul Fitri 1447 H Bersama Keluarga










 

Hangatnya Silaturahmi: Merayakan Hari Kedua Idul Fitri 1447 H Bersama Keluarga

Gema takbir mungkin sudah berganti dengan riuh tawa di ruang tamu, namun esensi kemenangan tetap terasa kental. Memasuki hari kedua Hari Raya Idul Fitri 1447 H, suasana biasanya terasa jauh lebih rileks dan intim. Jika hari pertama penuh dengan kekhusyukan salat Ied dan sungkeman, hari kedua adalah waktunya "merayakan" kebersamaan dalam arti yang paling santai.

1. Aroma Dapur yang Tak Kunjung Padam

Di hari kedua, meja makan masih menjadi pusat gravitasi. Ketupat, rendang, dan opor ayam tetap menjadi primadona, namun biasanya muncul menu-menu "penyelamat" seperti bakso atau mi ayam untuk mengimbangi hidangan bersantan. Menikmati hidangan sisa semalam bersama-sama justru sering kali terasa lebih nikmat karena bumbu yang sudah semakin meresap dan obrolan yang semakin mengalir.

2. Ruang Tamu: Panggung Cerita dan Tawa

Inilah saatnya mendengar cerita dari sanak saudara yang merantau. Dari kisah sukses, cerita lucu di perantauan, hingga petuah dari para tetua. Tidak ada yang bisa mengalahkan kualitas waktu saat seluruh anggota keluarga—dari kakek nenek hingga cucu terkecil—berkumpul di satu karpet yang sama, berbagi kebahagiaan tanpa sekat gadget.

3. Tradisi yang Menyatukan Generasi

Momen hari kedua sering kali diisi dengan:

Sesi Foto "Random": Jika hari pertama fotonya formal dengan baju seragam, hari kedua biasanya penuh dengan foto candid dan video seru untuk konten media sosial.

Pembagian "Angpao" Tahap Dua: Bagi anak-anak, ini adalah momen yang paling dinanti saat paman dan bibi baru sempat berkunjung hari ini.

Rencana Liburan Singkat: Mulai muncul ide-ide spontan untuk mengunjungi tempat wisata lokal atau sekadar nonton film bareng di bioskop

 

Memasuki hari kedua lebaran 1447 H/ 2026 M Pada hari Minggu 22/3/2026 Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya  Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA kedatangan Saudara Ponak - Ponakan Silahturahmi di Kediaman Penulis , Dalam kesempatan ini  Penulis memberikan Hidangan CAP JAY  Goreng Dan Ayam OPOR Dan LONTONG  Ketupat Serta Tidak Lupa Es Sirup , Dalam  kesempatan ini Keponakan Penulis PANEN DEGAN Langsung di ambil dari POHON Dan LANGSUNG Diminum  Segar Banget

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Mengajak  Dan Menyampaikan Idul Fitri 1447 H mengingatkan kita bahwa harta paling berharga bukanlah apa yang kita kenakan, melainkan siapa yang ada di samping kita. Kesempatan untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih adalah kado terbaik di hari yang fitri ini.

Selamat merayakan hari kedua Lebaran! Mari simpan memori indah ini sebagai bekal semangat untuk hari-hari mendatang.

Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

  NO HP 083857963

Sabtu, 21 Maret 2026







 


Membasuh Luka, Menjemput Rida: Sungkeman di Hari Nan Fitri

 

Idulfitri bukan sekadar tentang baju baru atau hidangan mewah di atas meja. Lebih dari itu, Lebaran adalah tentang kepulangan. Bukan hanya pulang secara fisik ke kampung halaman, melainkan pulangnya hati ke pelukan orang-orang tersayang. Puncak dari kepulangan ini tercermin dalam satu tradisi yang begitu syahdu: Sungkeman. Momen sungkeman seringkali menjadi saat yang paling hening di tengah keriuhan keluarga besar. Ketika lutut bersimpuh di hadapan orang tua, dan tangan mereka yang mulai keriput merengkuh kepala kita, tiba-tiba tenggorokan terasa tercekat.

Segala ego, kesuksesan di perantauan, hingga gelar yang kita sandang seolah luruh seketika. Di depan ayah dan ibu, kita kembali menjadi anak kecil yang penuh salah dan rindu.

"Sungkeman bukan sekadar tradisi formalitas, melainkan momen di mana kejujuran hati berbicara melampaui kata-kata."

Ada beberapa alasan mengapa momen ini selalu berhasil membuat mata sembap:

Penyadaran Diri: Kita diingatkan bahwa waktu terus berjalan. Melihat rambut orang tua yang kian memutih saat kita menunduk adalah pengingat bahwa kesempatan untuk berbakti tidaklah abadi.

Ruang Maaf yang Luas: Seringkali, ada ganjalan di hati yang sulit diungkapkan di hari biasa. Sungkeman menjadi "pintu darurat" untuk melepaskan segala rasa bersalah atas kata-kata yang tajam atau sikap yang kurang berkenan.

Doa yang Menembus Langit: Saat orang tua membisikkan doa di telinga kita sembari memegang bahu kita, itulah kekuatan terbesar bagi seorang anak untuk menghadapi dunia di sisa tahun mendatang.

 

Pada hari sabtu 21/3/2026 bertepatan dengan 1 Syawal 1447 H / 2026 M Seperti biasa Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA  Selepas Sholat Idul Fitri Berkumpul bersama Kakak  Dan Ponakan Tercinta Merayakan Hari Raya Idul Fitri , Sebelum Kedatangan Tamu - Tamu  baik tetangga ataupun Guru Guru Penulis menyempatkan Melakukan SUNGKEMAN Kepada Ayah Penulis ,  Kakak Kepada Ayah Penulis sekaligus Kakek  Dan Penulis , Dimana Kegiatan SUNGKEMAN Ini Adalah Kegiatan Yang Selalu Ada di Keluarga Penulis

Menurut Penulis  Bagi keluarga besar, sungkeman adalah lem yang merekatkan kembali keretakan. Di antara saudara sepupu, paman, dan bibi, momen saling bersalaman ini menghapus rasa iri, dengki, atau perselisihan masa lalu. Kita diingatkan bahwa kita berasal dari akar yang sama.

Di hari yang fitri ini, biarlah air mata yang jatuh saat sungkeman menjadi pembasuh noda di hati. Biarlah pelukan hangat itu menjadi penawar lelah atas segala perjuangan hidup.

Selamat Idulfitri. Mari bersimpuh, memohon ampun, dan kembali memulai segalanya dengan hati yang putih bersih

Penulis

   H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

 Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

  Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                    

  NO HP 083857963

Selasa, 17 Maret 2026













 


Menjalin Harmoni dalam Hangatnya Buka Puasa Bersama Malam Ke 23 Ramadhan 1447 H

di SMP PGRI 6 Surabaya

Ramadhan selalu punya cara tersendiri untuk menyatukan hati. Pada hari ke-23 di bulan suci ini, suasana di SMP PGRI 6 Surabaya tampak berbeda dari biasanya. Keceriaan pecah saat seluruh siswa dan guru berkumpul dalam acara Buka Puasa Bersama, sebuah tradisi tahunan yang penuh makna dan keberkahan. Bagi keluarga besar SMP PGRI 6 Surabaya, momen ini bukan hanya soal membatalkan puasa. Ini adalah tentang mempererat tali silaturahmi dan meruntuhkan sekat antara guru dan murid. Di sini, semua duduk sama rendah, berbagi cerita, dan menunggu azan Maghrib dengan penuh khidmat.

Momen-Momen Berkesan

Ada beberapa hal yang membuat buka puasa kali ini terasa begitu nikmat:

a) Tausiyah Singkat: Menjelang berbuka, acara diisi dengan siraman rohani yang mengingatkan para siswa tentang pentingnya kesabaran dan berbagi di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

b) Keseruan Takjil: Wajah-wajah antusias terlihat saat hidangan takjil mulai dibagikan. Kesederhanaan menu justru menambah kenikmatan saat disantap bersama-sama.

c) Salat Maghrib Berjamaah: Setelah membatalkan puasa, seluruh siswa dan guru melaksanakan salat berjamaah, menciptakan suasana religius yang sangat kental di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah dan para guru berharap kegiatan ini dapat menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, seperti rasa syukur, kebersamaan, dan kedisiplinan. Di SMP PGRI 6 Surabaya, pendidikan bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi juga soal pembentukan akhlak melalui kebersamaan nyata.Di hari terakhir Ramadhan 1447 H/ 2026 M Pada hari Kamis 12/3/2026 SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Inspirasi Mengadakan Buka Puasa Bersama  Dimana Seluruh siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya membawa bekal dari rumah masing masing , Sedangkan Bapak / Ibu Guru SMP PGRI 6 Surabaya Ada Menu NASI GORENG CAP JAY FUYUNG HAY KOLOKE BUAH   Dan Menu TAKJIL. Sebelum berbuka seluruh siswa / Siswi SMP PGRI 6 Surabaya dan Bapak / Ibu Guru  Melaksanakan SHALAT MAGHRIB Berjamaah

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Mengajak siswa / Siswi dan Guru SMP PGRI 6 Surabaya Dengan terlaksananya kegiatan ini di Ramadhan hari ke-23, diharapkan semangat kebersamaan ini terus terbawa hingga hari kemenangan tiba dan seterusnya dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

"Kenikmatan berbuka bukan pada mewahnya makanan, melainkan pada siapa kita berbagi meja dan doa."

Dengan terlaksananya kegiatan ini di Ramadhan hari ke-23, diharapkan semangat kebersamaan ini terus terbawa hingga hari kemenangan tiba dan seterusnya dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

 

Selamat menjalankan sisa ibadah puasa, keluarga besar SMP PGRI 6 Surabaya!

 Penulis

 

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                  

 NO HP 083857963

Senin, 16 Maret 2026

Indahnya Kebersamaan: Mengukir Senyum Melalui Berbagi Takjil di SMP PGRI 6 Surabaya















 Indahnya Kebersamaan: Mengukir Senyum Melalui Berbagi Takjil

di SMP PGRI 6 Surabaya

Bulan Ramadhan 1447 H kali ini terasa begitu istimewa di lingkungan SMP PGRI 6 Surabaya. Di balik hiruk-pikuk Kota Pahlawan yang tak pernah tidur, ada sebuah momen teduh yang tercipta di depan gerbang sekolah. Bukan sekadar rutinitas tahunan, kegiatan berbagi takjil tahun ini menjadi sebuah perjalanan spiritual yang menyentuh hati bagi seluruh warga sekolah.

Sore itu, langit Surabaya mulai meredup dengan semburat jingga. Para siswa, guru, dan staf berkumpul dengan semangat yang meluap. Di tangan mereka, terpegang paket-paket sederhana berisi cinta: kurma yang manis, minuman segar, dan kudapan ringan. Namun, yang membuat suasana begitu mengharukan bukanlah apa yang ada di dalam bungkusan tersebut, melainkan ketulusan di balik setiap pemberiannya.

a) Pelajaran Empati Nyata: Siswa belajar bahwa di balik rasa lapar yang mereka tahan seharian, ada orang lain yang mungkin bingung harus berbuka dengan apa.

b) Kehangatan dalam Keberagaman: Senyum para pengendara ojek online, petugas kebersihan jalan, hingga warga sekitar yang melintas menjadi pemandangan yang menyejukkan jiwa.

c) Kekompakan Keluarga Besar: Guru dan murid bahu-membahu tanpa sekat, membuktikan bahwa pendidikan karakter terbaik adalah melalui keteladanan.

Di SMP PGRI 6 Surabaya, Ramadhan 2026 ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ini adalah tentang mengetuk pintu langit melalui tangan-tangan kecil yang belajar peduli. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap para siswa tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Ramadhan akan berlalu, namun jejak kebaikan yang tertinggal di depan gerbang SMP PGRI 6 Surabaya sore itu akan terus membekas di hati setiap orang yang terlibat. Karena sejatinya, harta kita yang paling nyata adalah apa yang kita berikan kepada orang lain.

Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surbaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan  Semampir menutup kegiatan Pondok Ramadhan 1447 H/ 2026 M   Pada hari Kamis 12/3/2026 Bertepatan dengan Malam Ke 23 Ramadhan   Pukul 15.00 Seluruh siswa / Siswi Berkumpul ada yang membawa Nasi , Kue Dan lain sebagai nya Tujuan Dari ini semua adalah Untuk berbagi  Takjil  untuk masyarakat di depan gang Sekolah,  Dalam suasana Mendung Pukul 16.30  TAJIL Dibagikan kepada masyarakat sekitar sekolah SMP PGRI 6 Surabaya , Dengan semangat dan antusias seluruh siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya dan bapak / Ibu dewan Guru membagikan  Kepada Masyarakat , masyarakat sangat antusias menerima pembagian TAJIL Dari SMP PGRI 6 Surabaya  tersebut sampai memacetkan Jalan Raya Bulak Rukem

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA  Menyampaikan Ucapan Terimakasih Kepada Wali Murid SMP PGRI 6 Surabaya yang sudah  berbagi untuk kegiatan berbagi Tajil di samping itu penulis juga menyampaikan dan mengajak Ramadhan akan berlalu, namun jejak kebaikan yang tertinggal di depan gerbang SMP PGRI 6 Surabaya sore itu akan terus membekas di hati setiap orang yang terlibat. Karena sejatinya, harta kita yang paling nyata adalah apa yang kita berikan kepada orang lain.

 

Selamat menjalankan ibadah puasa 1447 H. Semoga setiap butir kurma yang kita bagi menjadi saksi kebaikan di hari akhir kelak.

Penulis

 

  H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

 

 Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id                  

 NO HP 083857963