Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara
Hari Kebangkitan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Lebih dari itu, momen ini adalah alarm sejarah yang mengingatkan kita bahwa kedaulatan sebuah negara tidak hanya dijaga dengan moncong senjata di perbatasan, melainkan disemai melalui kualitas generasi mudanya. Membicarakan masa depan Indonesia berarti membicarakan bagaimana kita hari ini merawat "tunas bangsa". Kata "tunas" menyiratkan sesuatu yang baru tumbuh, rapuh, namun menyimpan potensi raksasa untuk menjadi pohon yang kokoh. Di tangan anak-anak dan remaja hari inilah, nasib kedaulatan NKRI dipertaruhkan dalam beberapa dekade mendatang.
Jika pahlawan masa lalu bangkit melawan kolonialisme fisik, tunas bangsa hari ini menghadapi musuh yang kasat mata: penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme) melalui perang asimetris, infiltrasi budaya, dan polarisasi digital. Kedaulatan negara saat ini tidak hanya diukur dari batas teritorial, tetapi juga dari kedaulatan digital, ekonomi, dan pemikiran. Ketika generasi muda kita lebih terpikat pada ideologi transnasional, terjebak dalam pusaran hoaks, atau mengalami degradasi moral akibat konsumsi konten yang tidak sehat, maka runtuhnya kedaulatan bangsa tinggal menunggu waktu. Bangsa yang besar tidak akan punah karena diserang dari luar, melainkan karena keropos dari dalam akibat generasi penerusnya kehilangan jati diri.
Tiga Pilar Menjaga Tunas Bangsa
Untuk memastikan tunas-tunas ini tumbuh menjadi benteng kedaulatan yang kokoh, diperlukan sinergi dari tiga aspek utama:
1) Pendidikan Berkarakter dan Berbasis Pancasila Pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak-anak yang pintar secara akademis, tetapi tumpul secara empati dan nasionalisme. Tunas bangsa harus dibekali dengan literasi digital yang kuat agar mampu memfilter informasi, serta penanaman nilai-nilai Pancasila yang aplikatif, bukan sekadar hafalan di atas kertas.
2) Kesehatan Fisik dan Mental (Pengentasan Stunting) Kita tidak bisa bicara tentang kedaulatan bersaing di kancah global jika tunas bangsa kita masih dibayangi oleh masalah stunting (tengkes) dan gizi buruk. Menjaga kedaulatan negara dimulai dari dapur rumah tangga—memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak nutrisi dan kesehatan mental yang layak agar tumbuh menjadi manusia yang kompetitif.
3) Keteladanan dari Generasi Pendahulu Tunas tumbuh mengikuti arah cahaya. Generasi tua—baik orang tua, guru, maupun para pemimpin publik—harus mampu menjadi "cahaya" yang memberikan teladan integritas. Anak muda tidak butuh khotbah moral; mereka butuh contoh nyata tentang bagaimana mencintai republik ini dengan pembuktian kerja dan kejujuran.
Dalam rangka memperingati 118 Hari Kebangkitan Nasional Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pada Hari Rabu 20/5/2026 Pukul 07.00 di lapangan SMP PGRI 6 Surabaya mengadakan kegiatan Upacara PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL.
Dalam kesempatan ini yang bertindak menjadi Pembina Upacara adalah Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA.
Dalam sambutannya Penulis menyampaikan Kalian semua yang berdiri di lapangan hari ini adalah tunas-tunas bangsa tersebut. Di pundak kalianlah masa depan Indonesia diletakkan. Namun ingat, tantangan kalian hari ini berbeda dengan pahlawan masa lalu. Penjajahan zaman sekarang tidak lagi menggunakan senjata, melainkan masuk melalui gawai di tangan kalian—berupa hoaks, degradasi moral, judi online, hingga budaya asing yang mengikis jati diri bangsa.
Oleh karena itu, menjaga kedaulatan negara saat ini artinya kalian harus bangkit melawan rasa malas. Bangkit untuk menguasai teknologi dengan bijak, rajin membaca, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta saling menghargai dalam keberagaman.Kepada Bapak dan Ibu Guru, mari kita bersama-sama menjaga, merawat, dan menuntun tunas-tunas muda ini dengan penuh keikhlasan dan keteladanan. Jadikan sekolah kita rahim tempat lahirnya generasi yang cerdas akalnya dan mulia akhlaknya. Mari kita jadikan momentum 118 tahun Kebangkitan Nasional ini untuk melangkah lebih maju. Jangan jadi generasi yang rebahan, jadilah generasi yang membawa perubahan!
Penulis
H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963



.jpeg)














.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)











.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)




.jpeg)

