Kamis, 15 April 2021

“ NIKMATNYA MAKAN SOTO PAK SAKUR SAMBIL NGOBROL – NGOBROL GURU SMP PGRI 6

 





“ NIKMATNYA MAKAN SOTO PAK SAKUR

SAMBIL NGOBROL – NGOBROL GURU SMP PGRI 6

Hari Ke 457

Setelah rutinitas yang padat, berkumpul bersama teman memang obat paling mujarab pelepas lelah. Untuk menghabiskan waktu bersama teman, tentu dibutuhkan tempat yang super nyaman. bahwa jamuan bersama teman dan keluarga adalah cara yang paling mendasar untuk dapat komunikasi antara satu sama lain

Bapak / Ibu Guru SMP PGRI 6 Surabaya  Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan Yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Sebelum melaksanakan Ibadah Puasa Pada Hari Senin 12/4/2021  Yang terdiri dari Ibu ANIS LAILY MUFIDAH S.Pd  , Ibu MEI RATNA SUSANTI,S.Si , Ibu YUNI ISMARYATI,S.Pd Dan Ibu SRI SUPADMI,S.Pd Mengisi waktu untuk kegiatan sebelum Ramadhan 1442 H Makan Nasi SOTO PAK Sakur Di WONOSARI MULYO  XI No 19 Surabaya , Dimana Di WARUNG PAK SAKUR Bapak / Ibu Guru SMP PGRI 6 Surabaya  Sambil makan SOTO Menikmati  dan ngobrol masalah Pendidikan dan Keluarga.

Menurut MEI RATNA SUSANTI,S.Si Selaku Guru SMP PGRI 6 Surabaya Bahwasannya Nikmatnya Bisa MAKAN Walaupun Hanya NASI SOTO , Nikmatnya yaitu bisa makan dan ngobrol bersama sahabat sahabat yang tidak hanya Ngurusi Dunia Kerja saya, Sekali kali makan bersama walaupun NASI SOTO Dan THE PANAS

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat

 

Rabu, 14 April 2021

“ Makanan APEM KHAS MAKANAN JAWA YANG HARUS DI LESTARIKAN JANGAN SAMPAI PUNAH”

 







“ Makanan APEM  KHAS MAKANAN JAWA

YANG HARUS DI LESTARIKAN JANGAN SAMPAI PUNAH”

Hari Ke 456

Kue Apem adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam kemudian dipanggang. Bentuknya mirip serabi, hanya saja lebih tebal. Kata apem berasal dari bahasa Arab afuum yang berarti pemberian maaf (ampunan) atau pengayomanAsal mula kue apem ini bermula ketika Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya membawa kue ini saat kembali dari perjalanan tanah suci. Ia membawa oleh-oleh berupa tiga buah makanan. Namun karena terlalu sedikit, kue apem ini dibuat ulang oleh istrinya. Setelah jadi, kue-kue ini kemudian disebarkan kepada penduduk setempat. Pada penduduk yang berebutan mendapatkannya Ki Ageng Gribig meneriakkan kata “yaqowiyu” yang artinya “Tuhan berilah kekuatan.” Makanan ini kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Kue Apem, yakni berasal dari saduran bahasa Arab “afuum” yang bermakna ampunan. Tujuannya adalah agar masyarakat juga terdorong selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan ‘membagi-bagikan’ Kue Apem ini berlanjut pada acara-acara syukuran.Kue Apem sangat akrab dengan orang Jawa, karena kue ini tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai bentuk doa untuk memperoleh pengampunan dan pengayoman. Inventarisasi Makanan Tradisional Jawa Unsur Sesaji di Pasar-Pasar Tradisional Kabupaten Bantul, menulis bahwa hampir semua ritual upacara tradisional Jawa menggunakan apem sebagai sesaji. Misalnya dalam upacara selama masa kehamilan, upacara tradisional sunatan, upacara pernikahan, sampai upacara kematian. Bahkan tradisi-tradisi unik di Jawa juga terkait dengan kue ini. Selain itu, juga ada upacara ngapem di lingkungan Keraton. Kemudian ada upacara Ruwahan yang kegiatan utamanya membuat kue apem. Ruwahan dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan. Kue Apem pada upacara ini bermakna permohonan ampun agar bersih dari dosa sebelum menjalankan ibadah puasa. Selain itu terdapat pula upacara sebar apem yang dikenal dengan nama Upacara Yaa Qo Wi Yuu. Pada upacara ini, Kue Apem disebar sebanyak 4 ton apem yang diperebutkan oleh warga. Apem yang didapat pada upacara ini dipercaya dapat menyuburkan tanah, melariskan jualan, dan lain-lain.

Makanan Apem selalu ada  bila ada orang yang meninggal , Termasuk ketika Bulan SUCI RAMADHAN , APEM Adalah menjadi makanan FAVORIT Di Bulan SUCI Ramadhan , Seperti Ramadhan 1442 H Penulis yang  juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan Yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  pada saat megengan menerima kiriman APEM Banyak dari Tetangga – Tetangga dan Penulis juga mendapatkan kiriman dari Sahabat Penulis yaitu KAK SYAHRUL ,S.Pd Alumni Jurusan MATEMATIKA UNIPA Pelatih Pramuka Dan Pelatih PANAHAN Di SMP PGRI 6 Surabaya , Dimana Kak Syahrul membawa Apem Pas Malam Megengan Dimana Sebelum sholat Maghrib Apem tersebut di antar ke rumah penulis.

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat

 

Selasa, 13 April 2021

“ AJAK SEKOLAH PGRI UNTUK BANGKKIT MENJADI SEKOLAH UNGGUL DAN BERMUTU MENYAMBUT PPDB 2021- 2022 “

 
























“ AJAK SEKOLAH PGRI UNTUK BANGKKIT

MENJADI SEKOLAH UNGGUL DAN BERMUTU

MENYAMBUT PPDB 2021- 2022 “

Hari Ke- 455

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan dan para praktisi pendidikan untuk bisa mengimbanginya. Salah satunya dengan pendidikan yang berkualitas. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang berkualitas telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan berkualitas merupakan satu upaya dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan mutu SDM dituangkan dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah unggulan di beberapa wilayah.Ketika mendengar nama sekolah unggulan yang tergambar di benak kita sekolah yang luar biasa, elit, mahal dan top. Memang dilihat dari fisiknya sangat mewah, biayanya mahal, akan tetapi hal itu diimbangi dengan tenaga pendidik yang profesional, kurikulum yang tepat, program yang bagus dan proses yang maksimal, sehingga output yang dihasilkan sangat baik (unggul). Pada awalnya Sekolah unggulan merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan untuk mampu berprestasi di tingkat regional, nasional dan internasional dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjang oleh pendidikan karakter. Akhir-khir ini ketertarikan masyarakat terhadap sekolah unggulan semakin meningkat. Terbukti meludaknya pendaftar seleksi siswa baru di sekolah-sekolah unggulan. Salah satu alasannya disamping unggul dibidang akademiknya, pendidikan moralnya sangat diperhatikan, walaupun hal itu tidak menjadi jaminan bagi siswa bermoralitas seratus persen, akan tetapi lingkungan tercipta ke arah tersebut.Istilah sekolah unggul pertama kali diperkenalkan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro, tahun 1994. Istilah sekolah unggul lahir dari satu visi yang jauh menjangkau ke depan, wawasan keunggulan. Menurut Wardiman, selain mengharapkan terjadinya distribusi ilmu pengetahuan, dengan membuat sekolah unggul di tiap-tiap propinsi, peningkatan SDM menjadi sasaran berikutnya. Lebih lanjut, Wardiman menambahkan bahwa kehadiran sekolah unggul bukan untuk diskriminasi, tetapi untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan memiliki wawasan keunggulan.Pada dasarnya, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas guru yang bekerja di sekolah tersebut. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai agen pengubah siswanya, dan menekankan kepada kemandirian dan kreatif sekolah yang memfokuskan pada perbaikan proses pendidikan.Di samping itu ada juga yeng berpendapat bahwa Sekolah unggul adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan yang dihasilkan (output) dari pendidikannya. Dengan demikian sekolah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang dikembangkan dan dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lulusan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lainnya. Secara umum, sebuah sekolah dapat dikategorikan unggul harus meliputi tiga aspek dalam manajerial. Ketiga aspek tersebut adalah:1. Input (masukan)nput (masukan) sekolah adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input sekolah merupakan bahan-bahan yang diperlukan untuk mencapai pembentukan manusia yang disebut manusia seutuhnya. Input sekolah dapat diidentifikasikan mulai dari human (manusia), money (uang), materials (material/ bahan-bahan), methods (metode-metode), dan machines (mesin-mesin). Pendidikan tidak boleh diartikan hanya sebagai proses transfer ilmu saja, namun juga harus diartikan sebagai upaya membantu siswa untuk mampu mengenal diri dan lingkungannya. Daniel Goleman, dalam bukunya, menyebutkan bahwa kemampuan mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang membutuhkan kecerdasan otak (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Di samping itu, kecerdasan spiritual (SQ) calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru. Dengan demikian, tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan atau multy intellegence.Oleh karena itu, tes seleksi siswa baru tujuannya tidak semata-mata untuk menerima atau menolak siswa tersebut tetapi jauh ke depan untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa. Dengan data tingkat kecerdasan siswa tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan proses pembinaannya dan bahkan dapat untuk menentukan target atau arah pendidikan di masa depan. 2. Proses Proses belajar-mengajar sekolah unggul ini setidaknya berkaitan dengan kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum, metode pembelajaran, program ekstrakurikuler, dan jaringan kerjasama. a. Sekolah unggul harus memiliki guru yang unggul. Artinya, guru tersebut harus profesional dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Adapun komptensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu lembaga pendidikan yang unggul adalah: 1) Kompetensi penguasaan mata pelajaran 2) Kompetensi dalam pembelajaran 3) Kompetensi dalam pembimbingan 4) Kompetensi komunikasi dengan peserta didik 5) Kompetensi dalam mengevaluasiGuru yang profesional, dalam pembelajaran harus menempuh empat tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, penilaian, dan refleksi/P3R. b. Fasilitas belajar c. Kurikulum d. Metode pembelajaran. Sekolah yang unggul harus menggunakan metode pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif dan kreatif yang disertai dengan kebebasan dalam mengungkapkan pikirannya.

Dalam menyiapkan PPDB 2021/2022 PGRI Kota Surabaya Pada hari Senin 12/4/2021  Mengundang SMP PGRI Se Kota Surabaya  Sebanyak 11 Sekolah  untuk mengikuti pembinaan dari ketua PGRI Kota Surabaya yang diadakan di SMK PGRI 5 Surabaya JL Karang Rejo IV No 16 Surabaya Salah satu 11 SMP PGRI Yang ada di Kota Surabaya adalah SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  menghadiri undangan Ketua PGRI Kota Surabaya. . Dalam kesempatan tersebut Penulis berangkat dari rumah sekitar Pukul 12.00 , Mengingat undangan adalah Pukul 12.30  Dalam sambutannya Bapak Ketua YPLP PGRI Cabang Kota Surabaya  Bapak H. ILYAS , S.Ag , M.Pd mengajak SMP PGRI Di Kota Surabaya untuk terus bersatu apalagi dalam menyambut PPDB 2021/2022 , Setelah pengarahan dari Bapak Drs. ILYAS , S.Ag , M.Pd . I Selanjutnya yaitu Pengarahan dari Ketua PGRI Kota Surabaya Ibu Dra AGNES , Dalam Pengarahannya Ibu Yang Mantan Kepala Bidang Sekdas tersebut mengajak kepada Kepala SMP PGRI Di Kota Surabaya untuk tetap semangat dalam menghadapi PPDB 2021/2022 , Dan Tetap selalu komunikasi dan kordinasi antar sekolah Dengan PGRI Di Kota Surabaya Insyah Allah Semoga PPDB 2021/2022 Ini berjalan lancar , Karena PGRI Sudah melaksanakan ikhtiar pendekatan dengan DPRD Kota Surabaya , Pemkot Surabaya Dan Semua lapisan yang mendukung Pendidikan Harapannya agar pelaksanaan PPDB 2021/2022 Berjalan lancar tanpa adanya masalah serta Sekolah PGRI Kota Surabaya Kembali JAYA Mendapatkan Siswa /Siswi yang Banyak tanpa ada yang kekurangan PAGU , Serta dengan siswa / siswi yang banyak di tunjang dengan sarana yang memadai harapannya SMP PGRI Di Kota Surabaya Menjadi Sekolah UNGGUL , Sekolah Bermutu Di Kota Surabaya Sehingga harapannya SMP PGRI Di Kota Surabaya menjadi Idola Masyarakat untuk menitipkan Putra / Putrinya Di SMP PGRI Di Kota Surabaya.

Dalam kesempatan ini Penulis yang Juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Alumni Jurusan PLS UNESA Kelahiran APRIL 1984 Berharap agar teman – Teman SMP PGRI Tetap semangat dalam mencari Siswa / Siswi serta Penulis berharap agar Di MASA PANDEMI Ini PGRI Kota Surabaya bisa membantu Untuk PPDB 2021/2022  Ini agar SMP PGRI Di Kota Surabaya Kembali ke masa Kejayaannya.

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat       

 

Senin, 12 April 2021

“ Bersama SENIMAN JALANAN Kita MAJUKAN KOTA Surabaya Tercinta “

 







“ Bersama SENIMAN JALANAN

Kita MAJUKAN KOTA Surabaya Tercinta 

Hari Ke 454

Di dalam kehidupan sosial masyarakat, musik dan pemusik jalanan adalah dua hal yang sangat menarik. Musik dapat membuat orang untuk merasa senang dan bahagia, tetapi orang juga bisa menjadi pemusik atau penyayi. Realitasnya di lapangan ternyata ada interaksi antara pemusik dan lagu-lagu yang dinyanyikan. Pada pengamen jalanan, musik dinyanyikan sekaligus mempunyai dua fungsi, yang pertama sebagai media hiburan untuk menghibur para pendengar dan yang kedua adalah sebagai sarana untuk melakukan seruan moral dan kritik sosial. Hal lainnya dalam konteks ekonomi para pemusik jalanan itu juga memperoleh uang sebagai penopang ekonominya. Jadi sekaligus sebagai strategi ekonomi untuk memperoleh pendapatan. Pengamen (bahasa Inggris: street singers atau buskers), adalah sekelompok orang maupun individu yang melakukan pertunjukan di tempat umum (baik bernyanyi, menari, maupun bermain alat musik) untuk mendapatkan uang. Umumnya, pengamen dilakoni oleh remaja yang putus sekolah. Tapi kini ada banyak orang tua maupun anak-anak yang menjadi pengamen karena faktor ekonomi.Pengamen jalanan sering beroperasi di setiap lampu merah, terminal, di dalam bus, di depan pertokoan, pasar, tempat wisata, dan lain-lain. Penampilan mereka pun bermacam-macam. Mulai dari tampilan biasa, badut, anak punk, hingga memakai pakaian seksi. Kehadiran mereka sering dikonotasikan negatif karena mengganggu ketertiban. Selain itu, stigma ini juga muncul karena sering ditemui pengamen jalanan yang tidak tahu sopan santun dan brutal (beberapa di antara mereka memaksa para pendengar untuk memberikan sejumlah uang).Dalam sejarahnya, pengamen telah ada sejak abad pertengahan, terutama di Eropa. Bahkan di kota lama London, terdapat jalan bersejarah bagi pengamen yang berada di Islington. Pada saat itu, musik di Eropa berkembang sejalan dengan penyebaran musik keagamaan, yang kemudian dalam perkembangannya pengamen menjadi salah-satu landasan kebudayaan yang berpengaruh dalam kehidupan umat manusia

Puasa Ramadhan 1442 H Insyah Allah kurang 1 Hari lagi , Dimanfaatkan oleh Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No. 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Pada Hari Senin 12/4/2021  Yang sedang akan mengikuti Rapat melintasi Jalan KARANG Tembok Surabaya , Dimana saat melintasi KARANG Tembok Lampu merah Pengendara baik sepeda motor , Motor ataupun Pejalan kaki di suguhi music Jalanan Angklung yang sangat keren sekali permainan music nya , sambil menunggu lampu merah music tersebut dimainkan dan 2 orang meminta sumbangan se ikhlas nya kepada Para pengendara.

Menurut Penulis yang Juga Alumni Jurusan PLS UNESA Kelahiran APRIL 1984 Bahwasannya music jalanan tersebut harus nya Pemkot Surabaya bisa dijadikan Ikon Seperti Di YOGYAKARTA Dimana Para Pemain Musik JALANAN Bisa Mengisi  Di  Café – Café Atau Hotel Hotel Sehingga para pemusik jalanan bisa lebih berkelas dan uang pendapatan yang mereka dapatkan jauh lebih besar. Maka Dari itu Penulis berharap agar ada Perhatian untuk para Seniman , Mari Kita Jadikan Kota Surabaya yang bisa menghargai Para Musisi atau Seniman walaupun Kecil, Karena dari seniman lahirlah Ide Ide baru untuk kemajuan negeri dan kota tercinta.

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat       

 


Minggu, 11 April 2021

“ NYEKAR LELUHUR SEBELUM RAMADHAN UNTUK INGATKAN KITA AKAN KEMATIAN “

 





























“ NYEKAR LELUHUR SEBELUM RAMADHAN

UNTUK INGATKAN KITA AKAN KEMATIAN “

Hari Ke 453

Menyambut datangnya bulan Ramadan dan Syawal, masyarakat menyambutnya dengan berbagai tradisi yang unik dan sekaligus merepresentasikan kesukacitaan mereka akan hadirnya bulan suci yang penuh rahmat dan berkah ini. Berbagai kegiatan dan upacara tradisi dilaksanakan, tidak hanya yang indah dinikmati oleh yang masih hidup, semisal menata dan memperindah tempat tinggal dan tempat ibadah, tetapi juga menyuguhkan “sajian lezat” bagi mereka yang sudah tiada. Seperti berdoa secara massal, dan juga ziarah kubur keluarga secara bersama dengan menabur bunga, atau lazim disebut dengan istilah “nyekar”. Konon, tradisi ini muncul berkat akulturasi budaya Islam-Jawa-Hindu, yang mana dalam kepercayaan Jawa, roh adalah abadi dan selalu “pulang” menemui keluarga pada setiap bulan “Ruwah” (dalam kalender Islam disebut Sya’ban), Ruwah berasal dari kata “Arwah” bentuk plural dari “Ruh” yang berarti roh. Sehingga, menurut kepercayaan ini, bulan Ruwah merupakan momentum untuk saling bertegur-sapa antara mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup. Hindu juga memiliki sapaan khas dengan roh nenek moyang dengan beragam sesaji, salah satunya adalah bunga (Jawa: sekar). Kemudian dalam Islam, ziarah kubur merupakan hal yang sangat positif dilakukan sebagai wahana mengingat akan kematian. Sehingga, dari sisi ritual, tradisi “nyekar” ini merupakan hal yang sangat positif, di samping sebagai wahana memperkuat tali salaturrahmi “lintas-alam” juga menjadi sarana mempertebal keimanan akan kehidupan setelah dunia. Interpretasi terhadap makna tradisi “nyekar” ini memang harus lebih produktif. “Nyekar” bukan hanya realitas dari praktik keagamaan atau kepercayaan, tetapi bahkan lebih luas dari itu, tradisi “nyekar” melibatkan ranah kebudayaan, sosial, bahkan ekonomi. Karena tradisi “nyekar” di samping merupakan bentuk akulturasi dan model budaya keislaman pribumi, “nyekar” juga merupakan ajang merajut kembali akar historis serta merefleksikan masa depan. Artinya, dengan “nyekar” yang dimaknai secara lebih mendalam, seseorang diharapkan dapat merefleksikan sisi-sisi historis eksistensinya, dari mana dia berasal serta bagaimana dia dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang yang dia datangi di maqbarahnya itu. Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah “kembali” tersebut. Dan di sinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud. Tidak hanya itu, tradisi “nyekar” juga diharapkan dapat merefleksikan apa yang harus diperbuat seseorang untuk masa depan, yang telah berada di dalam kubur pasti telah “meninggalkan” banyak “pekerjaan” yang belum terselesaikan, bisa berbentuk cita-cita perjuangan, atau bahkan hal-hal yang mungkin harus diperbaiki dalam kehidupan ke depan. Nah, yang masih hidup inilah yang harus “meneruskan” cita dan harapan tersebut serta memperbaiki semuanya. Kemudian yang tak boleh terlupakan bahwa tradisi “nyekar” harus menjadi wahana mengingat kematian, yang mana kematian adalah hal yang pasti, tetapi mati dengan tenang dan husnul khatimah bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk mencapai ujung hidup yang indah harus pula terwujud upaya maksimal yang indah pula. Karena dalam bahasa agama, hanya yang kita perbuatlah yang nanti kita bawa sebagai bekal menghadap-Nya, berupa amal yang tiada putus pahalanya (amal jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan. Saat ini, tidak lagi relevan membicarakan apakah tradisi “nyekar” adalah merupakan hal yang halal atau haram, sunnah atau bid’ah, dianjurkan atau bahkan terlarang. Karena dalam realitas kebangsaan dan keberagamaan di Indonesia, akulturasi budaya selalu menjadi hal yang bahkan “memperkaya” dimensi-dimensi kehidupan. Tradisi “nyekar” dengan mengunjungi makam tertentu, apakah makam saudara, kerabat, tokoh-tokoh “hebat”, dan lainnya, ditambah dengan upacara tabur bunga di atasnya, ternyata telah terpraktekkan sepanjang sejarah peradaban bangsa ini, lantas, apa yang salah? Yang salah hanyalah apabila terjadi disorientasi dalam tradisi tersebut. Tradisi nyekar yang semula diniatkan untuk selalu mengenang jasa dan cita-cita mereka yang telah tiada, yang asalnya dimaksudkan sebagai wahana mengingat kematian dan kehidupan setelah kematian, sebagai ajang refleksi dan interospeksi diri, serta sebagai wahana “balas budi” dengan sebanyak-banyaknya serta seikhlas-ikhlasnya mengirim untaian doa pengampunan, malah berubah menjadi praktik-praktik “kemusyrikan”, menyembah kuburan, meminta-minta kepada kuburan, bahkan menggantungkan urusan hidup dan kehidupan dengan “wangsit” dari kuburan. Inilah yang perlu diluruskan. “Nyekar” harus selalu dilakukan sebagai wujud masyarakat yang berbudaya, yang keberagaman dan keberagamaannya terlihat syi’ar lahir-batin. Dengan tradisi “nyekar” akan terlihat adanya komunikasi yang selalu terbangun antara mereka yang telah meninggal dan mereka yang masih hidup, dan itu seharusnya menjadi bukti nyata bahwa mereka yang telah “kembali” ke hadirat-Nya adalah orang-orang yang “terkenang” dan bukan yang “terlupakan”, sekaligus membuktikan bahwa mereka yang masih hidup dan mengunjungi dengan taburan bunga dan untaian doa-doa merupakan generasi shalih yang selalu mendoakan. Tradisi “nyekar” (terlebih yang dilakukan di akhir sya’ban, mengahadapi ramadhan) juga menjadi pengingat –secara kultural- bahwa kita harus bersiap memasuki bulan yang penuh berkah, rahmah, dan ampunan, sehingga untuk mencapai itu semua, perlu yang namanya pembersihan diri (tazkiyatun nafs), di atara caranya adalah dengan memperbanyak istighfar, membaca ayat-ayat suci, minta maaf pada sanak saudara baik yang hidup maupun yang telah meninggal, serta mengingat akan kematian dan kehidupan setelah kematian, dan langkah-langkah semacam ini terwadahi dalam satu ritual yaitu “nyekar”. Begitu pula yang dilakukan di akhir ramadhan (menghadapi syawwal), seakan-akan mengingatkan bahwa bulan termulya sebentar lagi meninggalkan kita, sehingga sudah seharusnya kita tetap mempertahankan berkah, rahmah, dan ampunan yang -insya Allah- telah kita raih di Ramadhan kemarin, dengan tetap menjaga “kesucian” diri menuju fitrah, tidak melupakan istighfar, tidak melalaikan membaca ayat-ayat suci, tetap mengenang dan mendoakan mereka yang telah kembali pada-Nya, serta tetap menjaga silaturrahmi “lintas-alam” sebagaimana ramai dan hangatnya tempat-tempat pemakaman pada hari-hari tersebut. Inilah syi’ar budaya, yang sudah selayaknya kita apresiasi sebagai sebuah tradisi yang “mengingatkan”, meramaikan, serta mencerahkan syi’ar keagamaan kita. Selamat ber-Ramadhan dan berpuasa, semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan, kasih sayang dan ampunan-Nya kepada kita sekalian, mu’min yang taat.

Puasa Ramadhan 1442 H Insyah Allah kurang 1 Hari lagi , hal ini dimanfaatkan oleh Penulis yang sekaligus Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak  Di Jalan Bulak Rukem III No 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Pada Hari Minggu 11/4/2021 Penulis bersama Ayah Penulis pada Pukul 16.00 Berangkat dari rumah menuju ke Makam Rangkah JL Kenjeran 131 Surabaya  , Sebelum masuk ke makam Rangkah Penulis dan Ayah Membeli bunga di daerah SIDOYOSO , Selesai membeli bunga Penulis yang Alumni JURUSAN PLS UNESA Kelahiran APRIL 1984 Langsung masuk ke makam leluhur di sana penulis dan ayah penulis  membacakan Tahlil  untuk Leluhur  mula dari Mbah . BUDHE Dan PAKDE, Setelah itu penulis dan Ayah Penulis memasukan Bunga yang dibeli tadi ke dalam air yang sudah di siapkan oleh Penjaga Makam , Setelah itu penulis menyiramkan ke makam Mbah . Budhe Dan PAKDE. Tujuan dari kegiatan hari ini adalah menyambut datangnya bulan Ramadan dan Syawal, masyarakat menyambutnya dengan berbagai tradisi yang unik dan sekaligus merepresentasikan kesukacitaan mereka akan hadirnya bulan suci yang penuh rahmat dan berkah ini tradisi “nyekar” ini merupakan hal yang sangat positif, di samping sebagai wahana memperkuat tali salaturrahmi “lintas-alam” juga menjadi sarana mempertebal keimanan akan kehidupan setelah dunia. Interpretasi terhadap makna tradisi “nyekar” ini memang harus lebih produktif. “Nyekar” bukan hanya realitas dari praktik keagamaan atau kepercayaan, tetapi bahkan lebih luas dari itu, tradisi “nyekar” melibatkan ranah kebudayaan, sosial, bahkan ekonomi. Karena tradisi “nyekar” di samping merupakan bentuk akulturasi dan model budaya keislaman pribumi, “nyekar” juga merupakan ajang merajut kembali akar historis serta merefleksikan masa depan. Artinya, dengan “nyekar” yang dimaknai secara lebih mendalam, seseorang diharapkan dapat merefleksikan sisi-sisi historis eksistensinya, dari mana dia berasal serta bagaimana dia dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang yang dia datangi di maqbarahnya itu. Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah “kembali” tersebut. Dan di sinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud. Tidak hanya itu, tradisi “nyekar” juga diharapkan dapat merefleksikan apa yang harus diperbuat seseorang untuk masa depan, yang telah berada di dalam kubur pasti telah “meninggalkan” banyak “pekerjaan” yang belum terselesaikan, bisa berbentuk cita-cita perjuangan, atau bahkan hal-hal yang mungkin harus diperbaiki dalam kehidupan ke depan. Selesai dari Makam RANGKAH Penulis Dan Ayah Beserta PENJAGA Makam Membelikan BERAS Untuk PENJAGA Makam dan Keluarga. Semoga Tahun 2021 Penulis dan Keluarga di berikan Kesehatan Kelancaran REZEKI Untuk Dapat Menjalankan Ibadah RAMADHAN 1442 H  Dengan sebaik baiknya.

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat