Rabu, 12 Mei 2021

“ NIKMATNYA MENU BUKA PUASA DI WARUNG SEDERHANA YANG MURAH DAN NIKMAT “

 






“ NIKMATNYA MENU BUKA PUASA

DI WARUNG SEDERHANA YANG MURAH DAN NIKMAT “

Hari Ke- 484

Buka puasa adalah sebutan untuk sebuah pekerjaan membatalkan puasa pada waktu maghrib yang dilakukan dengan makan dan minum secara halal dan secukupnya dengan sunnah-sunnah yang telah ditentukan. Istilah buka puasa sudah tak asing lagi bagi orang yang mengerjakan ibadah puasa. Seolah ia menjadi trend dari ibadah yang setahun sekali dilaksanakan. Namun tak banyak orang yang merenungi / mengkaji rahasia dari makna yang terkandung dalam istilah “buka puasa”. Bagi kebanyakan kita, buka puasa itu disajikan dalam bentuk beraneka ragam makanan dan minuman yang hampir tidak ditemukan dalam bulan-bulan lain. Seolah ia adalah sebuah perhelatan besar untuk menjamu tamu-tamu istimewa, terkesan mewah. Di setiap rumah, bahkan musholla atau masjid, masing-masing memperlihatkan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan biologinya. Padahal puasa itu seharusnya lebih berimplikasi pada terbentuknya mental pengendalian hawa nafsu. Namun sepertinya orientasi itu tidak terlihat sama sekali. Kenikmatan yang diraih adalah kenikmatan jasadiah yang justru malah menutup kenikmatan ruhaniah yang seharusnya termanipestasi pada rasa syukur. Dalam bahasa Arab, buka puasa itu disebut futhur atau ifthar. Bentuk mashdar (kata benda) dari akar kata kerja fathara. Futhur juga dipakai untuk sebutan sarapan pagi. Secara etimologis, bentuk kata futhur berasal dari huruf fa tha dan ra. Huruf-huruf itu juga merupakan sumber dari kata fithrah yang berarti kesucian. Jadi, futhur dengan fithrah berasal dari satu sumber yaitu fa tha ra yang artinya adalah kesucian. orang puasa bermakna “buka puasa”. Istilah buka puasa harus dipahami secara hakiki bukan secara syar’i. kalau pemahaman buka puasa berhenti pada pengertian syari’at, maka buka puasa itu tidak bermakna apa-apa kecuali membatalkan puasa dengan cara makan/minum pada saat maghrib. Orientasinya hanyalah biologis, jasadiyah. Biasanya, istilah buka itu lebih identik sebagai permulaan, bukan symbol yang menunjukkan sebuah pengakhiran. Namun dalam pengertian pada umumnya, istilah "buka" itu diartikan justru sebagai penutup puasa. Jika tidak dikaji secara lebih mendalam, istilah buka puasa itu sangatlah ironis. Bahasa Indonesia memilih istilah buka puasa untuk pembatalan puasa pada saat maghrib bukanlah tanpa makna. Rasulullah saw bersabda:لِلصَّآئِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ اْلفُطُوْرِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَآءِ رَبِّهِ. Ada dua kebahagiaan bagi orang yang puasa; Kebahagiaan pada saat buka dan kebahagiaan pada saat berjumpa dengan Tuhan. Pada Hadits tersebut, kebahagiaan berbuka diselaraskan dengan kebahagiaan berjumpa dengan Tuhan. Kebahagiaan berjumpa dengan Tuhan bersifat ruhani, maka semestinya kebahagiaan berbuka juga merupakan kebahagiaan yang bersifat ruhani. Tidak available kalau kebahagiaan ruhani dinisbatkan pada pemenuhan kebutuhan jasad, apalagi dihubungkan dengan kebahagiaan bertemu dengan Tuhan. Ada hal lain dari buka puasa yang harus dikaji lebih mendalam dari sekedar pemenuhan jasad. Buka puasa yang dilakukan pada saat menjelang malam (maghrib) sangatlah berkaitan erat dengan keadaan alam yang gelap. Istilah "buka" menunjukkan sebuah penyingkapan sesuatu yang tertutup (terhijab). Sedangkan saat berbuka jatuh pada permulaan kegelapan malam yang menyimbolkan tertutupnya segala penampakan-penampakan. Makna saat maghrib adalah mulai tertutupnya segala penampakan kebendaan karena terangnya siang telah berakhir. Jadi, kegelapan malam merupakan symbol dari ketertutupan. Karena itu, ia harus dibuka. Penekanannya lebih kepada keadaan malam. Karena, justru pada saat malamlah sebenarnya poses pembentukan jati diri itu berlangsung. Keheningan malam membawa kita kepada sebuah keadaan di mana kita dituntut untuk membaca diri. Sebuah proses awal dari mengenal Tuhan. مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya. Waktu malam adalah symbol dari ketenangan, kegelapan dan kehampaan. Semua visualisasi kebendaan sirna pada malam hari. Kegelapan melepaskan kita dari gambaran-gambaran dunia yang mengikat kita pada saat siang. Persepsi pikiran kita pada siang hari sangatlah dipengaruhi oleh pandangan mata kita. Karena itu, puasa mengarahkan kita untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu persepsi dunia. Ketika persepsi diri terlepas dari gambaran dunia lewat menahan hawa nafsu pada siang hari, maka diri akan terbuka (terlepas) dari sifat-sifat dunia yang memperdaya dan siap untuk memasuki sebuah keadaan di mana sifat-sifat Tuhan akan muncul di dalam diri kita. Ruhani kita tidak butuh makanan dan minuman atau partikel-partikel dunia lainnya. Ia berdiri sendiri dan menjadi raja pada jasad kita. Pikiran kitalah yang selalu mengingkari titah-titah sang raja. Perintah sang raja tertutup oleh perintah pikiran kita sendiri. Puasa menundukkan pikiran kita agar ia patuh pada perintah ruhani. Perintah ruhani terhubung pada alam yang lebih tinggi. Sinyalnya kuat tanpa hijab dan membawa diri untuk lebih mengenal-Nya. Pada pikiranlah nafsu itu muncul. Ia tidak perlu dimatikan tapi ditenangkan, ditundukkan dan dikendalikan agar ia terhubung dengan perintah dari alam yang lebih tinggi. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (al-Fajr: 27-30) Buka puasa menjelang malam mengandung makna melepaskan pakaian dunia dari alam pikiran dan membangkitkan spirit ketuhanan dalam diri lewat rasa kita sendiri yang dilatih sejak pagi hingga menjelang malam. Kecintaan terhadap dunia berada di alam pikiran kita sendiri, menutup akal kesadaran kita yang seharusnya membawa kita kepada Tuhan. Seharusnya akal pikiran kita membawa kita kepada kesadaran tertinggi yang berujung pada pola berpikir ketuhanan. Bekerja untuk ridha Allah adalah kata kunci untuk membuat diri, keluarga, lingkungan, dan bangsa ini menjadi stabil. Buka puasa pada saat maghrib adalah dimulainya sebuah proses pembukaan diri untuk menerima pesan-pesan Allah lewat ayat-ayat-Nya baik kauniyyah maupun qauliyyah. Seperti sebuah belanga yang dibuka tutupnya, siap untuk dimasuki air. Menerima pesan Allah lewat ayat-ayat kauniyyah dan qauliyyah dapat menetralisir kehidupan diri sendiri, keluarga, lingkungan dan bangsa. Malam adalah sebuah symbol kehampaan karena hilangnya gambaran-gambaran dunia. Seperti bayi yang lahir dalam keadaan fitrah. Keadaan fitrah adalah kehampaan yang tak ada satupun angan-angan, mimpi yang menyesatkan atau hayalan-hayalan dari pikirannya sendiri yang menyuruh untuk jadi ini dan itu. Bagi bayi, pemandangan dunia itu belum terbayangkan dan belum mengikat pikirannya sendiri. Karena itu, bayi dikatakan fitrah, yakni hampa dari segala sesuatu yang merusak dirinya sendiri. Kondisi fitrah bagi manusia dewasa diraih dengan cara melepaskan gambaran-gambaran dunia dalam pikirannya. Gambaran dunia itu adalah sumber kerusakan dan kehancuran. Segala sesuatu yang berlawanan dan bertentangan, yang memunculkan peperangan, yang memunculkan pertikaian dan yang membuat ketidakseimbangan alam, semua bersumber dari gambaran dunia. Karena itulah, perintah puasa diturunkan untuk membenahi segala kerusakan yang ditimbulkan dari diri setiap orang. Jika pikiran setiap orang berorientasi pada kemaslahatan, maka alam akan tertata dengan tertib. Keadaan tersebut adalah kehendak Allah, bukan kehendak manusia. Karena manusia sudah tunduk pada perintah dari alam yang lebih tinggi, yakni Allah swt.

Setiap lebaran warung yang sangat sederhana ini setiap menjelang berbuka puasa selalu di banjiri pembeli , Mengingat masakan beliau yang bagi Penulis  Yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan  Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo  Kecamatan Semampir  setiap Ramadhan selalu mendatangi warung yang buka Jam 15.00 , Dimana Kadang penulis Beli KIKIL , Udang , Tahu Tempe Kerang . Disamping Masakannya Enak Harganya Juga sangat Murah PAS Untuk Masyarakat Dalam Kondisi COVID Seperti saat ini keuangan yang seret

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat       

Selasa, 11 Mei 2021

“ MENIKMATI INDAHNYA MALAM BERSAMA SAHABAT DI AMPEL MERAIH TAQWA DI BULAN RAMADHAN 1442/ 2021”

 




























“ MENIKMATI INDAHNYA MALAM BERSAMA SAHABAT  DI AMPEL

MERAIH TAQWA DI BULAN RAMADHAN 1442/ 2021”

HARI KE -483

Takwa berasal dari akar kata waqa-yaqi-wiqayatan, infinitif (mashdar)-nya adalah wiqayah yang mengandung arti menjaga, memelihara, melindungi, hati-hati, menjauhi sesuatu, dan takut azab (khasyyah dan al-khauf). Istilah takwa dan yang seakar dengannya terulang 258 kali dalam Alquran.Ibn Mas'ud (w 32 H) menyebut takwa kepada Allah adalah taat kepada-Nya dan tidak boleh berbuat maksiat, bersyukur kepada-Nya dan tidak boleh berbuat kekufuran, ingat kepada-Nya dan tidak boleh melupakan-Nya.Ibadah puasa diperintahkan Allah kepada setiap mukmin agar bisa meraih takwa (QS al-Baqarah [2]: 183). Di antara ciri-ciri takwa itu dijelaskan dalam surah Ali Imran [3]: 15-17. Selama berpuasa, kita berlatih untuk memiliki ciri-ciri takwa tersebut. Pertama, senantiasa berdoa kepada Allah SWT, seperti: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka." Di samping berikhtiar, orang yang bertakwa senantiasa menggantung kan harapannya kepada Allah semata. Mereka menunjukkan identitasnya sebagai mukmin sejati. Dan mereka juga sangat menginginkan balasan surga. Keinginan itu menjadi motivasi untuk tetap beriman dan beramal saleh serta takut berbuat maksiat. Kedua, memiliki sifat sabar (ashshabirin). Puasa melatih sabar untuk menahan lapar dan dahaga serta segala sesuatu yang membatalkannya. Pribadi yang sabar sangat dibutuhkan agar kita tetap taat, dapat mengen dali kan diri untuk tidak bermaksiat, termasuk bertahan dari berbagai problem dan kesulitan hidup. Ketiga, memiliki sifat jujur (ashshadiqin). Karena keyakinannya pada pengawasan Allah, orang yang berpuasa tidak akan membatalkan puasanya dengan makan dan minum meski ia bisa memastikan tidak seorang pun tahu jika ia berbuka. Kejujuran akan mudah terbentuk jika seseorang yakin sepenuh hati bah wa Allah SWT senantiasa mengawasinya. Keempat, senantiasa taat kepada Allah (al-qanitin). Untuk melaksana kan ibadah secara kontinu, butuh ke sadaran, kesungguhan, latihan, dan pembiasaan. Ramadhan hadir mem biasakan kita beribadah, seperti sha lat berjamaah, zikir, tadarus, dan ber sedekah. Kebiasaan itu harus tetap dilakukan di luar Ramadhan.Kelima, menafkahkan harta di ja lan Allah (al-munfiqin). Dalam al-Ba qarah (2): 177 juga dijelaskan tentang ciri orang bertakwa yang selalu berbagi pada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang bertakwa memiliki kepe kaan sosial yang tinggi dan solidaritas yang kuat pada sesama. Keenam, senantiasa beristighfar pada waktu sahur (al-mustaghfirin bilashar). Orang yang bertakwa selalu bangun di waktu sahur lalu memanfaatkannya untuk beristighfar. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah menjadi orang-orang yang bertakwa. Amin.

Dalam menutup Rangkaian Ramadhan 1442 H/2021 Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak  di Jalan Bulak Rukem III No.  7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Pada Hari Selasa 11/5/2021 Bersama Bapak Drs. H. MAHFUDZ ,M.Pd . I Kepala SMP ROMLY Tamim Dan Bapak SYAHRUL ,S.Pd Kepala SMP Kemala Bhayangkari 6 Surabaya Kumpul Pukul17.00 untuk Buka bersama yaitu GULE MARYAM Dimana Penulis yang Alumni Jurusan PLS UNESA Kelahiran APRIL 1984  Tersebut bersama teman – teman memesan  GULE Dan ROTI Maryam  Serta Minum THE PANAS . Dimana Bapak Drs. H. MAHFUDZ ,M.Pd . I Membayar Sebesar Rp. 105.000,- Selesai  Membayar kita melaksanakan Sholat MAGHRIB Di SD / TK MUFIDAH Yang Merupakan Masjid Lama , Setelah Sholat  Penulis Di ajak Jalan Sampai Di Rumah Sakit AL-IRSYAD Terus Kembali lagi menuju ke parkir Gule tadi dan Penulis di ajak Bapak Drs.H.MAHFUDZ,M.Pd . I Untuk  beli BAKSO , Akhirnya Kita Menuju Ke  BAKSO RUDAL Di BULAK BANTENG Dengan Minuman JERUK MANIS PANAS

Selesai  Makan BAKSO Penulis mengajak Doa Semoga PUASA RAMADHAN Kita Mulai Awal Sampai Akhir Nanti Di Terima Allah Dan Semoga Kita Diberikan Kesehatan Oleh Allah Dijauhkan Dari COVID Serta Semoga PPDB 2021/2022 Mendapatkan siswa / siswi Yang banyak Berkah Barokah Selamanya  Menurut Penulis Sangat Bahagia karena Di PUASA Yang kurang 1 Haru menuju ke Idul Fitri bisa di manfaatkan untuk makan bersama walaupun di warung sederhana Dan Penulis berharap Agar Kita PUASA  MERAIH Sebuah TAQWA.

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat       

Senin, 10 Mei 2021

“ DI PENUTUP KEGIATAN RAMADHAN 1442 H/2021 AJAK SISWA ISTIGHOSAH BERSAMA “

 














“ DI PENUTUP KEGIATAN RAMADHAN  1442 H/2021

AJAK SISWA ISTIGHOSAH BERSAMA “

HARI Ke - 482

 

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) "istaf’ala" استفعل atau "istif'al" menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron غفران yang berarti ampunan ketika diikutkan pola istif'al menjadi istighfar استغفار yang berarti memohon ampunan. Jadi istighotsah berarti "thalabul ghouts" طلب الغوث atau meminta pertolongan. Para ulama membedakan antara istghotsah dengan "istianah" استعانة, meskipun secara kebahasaan makna keduanya kurang lebih sama. Karena isti'anah juga pola istif'al dari kata "al-aun" العون yang berarti "thalabul aun" طلب العون yang juga berarti meminta pertolongan.<> Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit. Sedangkan Isti'anah maknanya meminta pertolongan dengan arti yang lebih luas dan umum. Baik Istighotsah maupun Isti'anah terdapat di dalam nushushusy syari'ah atau  teks-teks Al-Qur'an atau hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam surat Al-Anfal ayat 9 disebutkan: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ"(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan permohonanmu." (QS Al-Anfal:9) Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW memohon bantuan dari Allah SWT, saat itu beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar dimana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan Islam. Kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi dengan memberi bantuan pasukan tambahan berupa seribu pasukan malaikat. Dalam surat Al-Ahqaf ayat 17 juga disebutkan; Yang dalam hal ini adalah memohon pertolongan Allah atas kedurhakaan sang anak dan keengganannya meyakini hari kebangkitan, dan tidak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh keduanya untuk menyadarkan sang anak kecuali memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari kedua cuplikan ayat ini barangkali dapat disimpulkan bahwa istighotsah adalah memohon pertolongan dari Allah SWT untuk terwujudnya sebuah "keajaiban" atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah untuk diwujudkan. Istighotsah sebenamya sama dengan berdoa akan tetapi bila disebutkan kata istighotsah konotasinya lebih dari sekedar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah adalah bukan hal yang biasa biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya dimulai dengan wirid-wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah SWT berkenan mengabulkan permohonan itu. Istighotsah juga disebutkan dalam hadits Nabi,di antaranya : إنَّ الشَّمْسَ ‏تَدْنُوْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ, فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوْا بِآدَمَ ثُمَّ ‏بِمُوْسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari kiamat, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka berada pada kondisi seperti itu mereka beristighotsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa kemudian kepada Nabi Muhammad. (H.R.al Bukhari). Hadits ini juga merupakan dalil dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa seorang nabi atau wali adalah sebab. Terbukti ketika manusia di padang mahsyar terkena terik panasnya sinar Matahari mereka meminta tolong kepada para Nabi. Kenapa mereka tidak berdoa kepada Allah saja dan tidak perlu mendatangi para nabi tersebut? Seandainya perbuatan ini adalah syirik niscaya mereka tidak melakukan hal itu dan jelas tidak ada dalam ajaran Islam suatu perbuatan yang dianggap syirik. Sedangkan isti'anah terdapat di dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS Al-Baqarah: 45)

Di masa Pandemi COVID -19  Doa adalah Obat Paling Mujarab dalam mengatasi  hal tersebut , Apalagi di Bulan Suci Ramadhan 1442/2021 M  Seperti saat ini, Dimana Penutupan Pondok Ramadhan 1442 H / 2021 M SMP PGRI 6 Surabaya dan SDS AL-IKHLAS Surabaya  Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak Di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Mengadakan  Kegiatan ISTIGHOSAH , YASIN Yang Di Pimpin Oleh Bapak ACHMAD SYAIFUDDIN ,S.H. I Selaku Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti , Sebelum memulai Istighosah Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya  Alumni Jurusan PLS  Kelahiran APRIL 1984 Menyatakan bahwa kegiatan Istighosah dan YASIN Ini adalah Semoga Kita Di berikan Kesehatan Untuk Bisa Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan Bisa Sampai Ke HARI RAYA IDUL FITRI Serta Semoga Kita Semua Di Berikan Kesehatan Dan DI JAUHKAN DARI COVID 19 Serta Penulis Berharap Agar Pelaksanaan PPDB 2021/2022 Di SMP PGRI 6 Surabaya Dan SDS AL-IKHLAS Lancar serta mendapatkan siswa / siswi yang banyak berkah barokah selamanya .

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat       

 

 

 

 

Minggu, 09 Mei 2021

“ AJARKAN KARAKTER SEDINI MUNGKIN DAN MANDIRI KEPADA ANAK DIDIK DI SMP PGRI 6 SURABAYA”

 












































“ AJARKAN  KARAKTER SEDINI MUNGKIN DAN MANDIRI

KEPADA ANAK DIDIK DI SMP PGRI 6 SURABAYA”

HARI KE -481

Pondok Ramadhan Merupakan kegiatan yang diselenggarakan pada waktu bulan puasa yang berisi dengan berbagai bentuk kegiatan keagamaan seperti, buka bersama, pengkajian, sholat tarawih berjama’ah, tadarus Al-Qur’an dan pendalamannya, dan lain sebagainya. Jelasnya, kegiatan ini merupakan bentuk kegiatan intensif yang dilakukan dalam jangka tertentu yang diikuti secara penuh oleh peserta didik selama 24 jam atau sebagian waktu saja dengan maksud melatih mereka untuk menghidupkan hari-hari dan malam-malam bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan ibadah. Yang pasti bahwa kegiatan yang dijalankan disini ada mencontoh apa yang dilakukan di pesantren-pesantren pada umumnya baik yang salaf mapun yang modern. Kegiatan Pondok Ramadhan ini mempunyai tujuan ; 1. Memberi pemahaman secara menyeluruh tentang pentingnya membiasakan dibulan Ramadhan dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif (ibadah) 2. Meningkatkan amal ibadah peserta didik dan guru atau yang lainnya pada bulan Ramadhan. Dalam membentuk kepribadian peserta didik baik sacera rohani maupun jasmani dengan melakukan kegiatan keagamaan pada saat beribadah puasa dan amal-amal ibadah lainnya yang di kerjakan. 3. Memberikan pemahaman kepada para peserta didik tentang ajaran agama dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 4. Mengisi waktu luang dengan lebih memakai dan memperdalam iman dan takwa. Salah satu pemahaman lain tentang Pondok Ramadhan yaitu suatu kegiatan sekolah yang bersifat intra kurikuler, kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada bulan puasa (Ramadhan), Adapun pondok ramdhan itu sendiri tersusun dari dua kata yakni; Pondok dan Ramadhan. Karel A. Steenbrink berpendapat bahwa asal usul istilah pondok berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata pondok memiliki arti madrasah dan asrama (tempat mengaji; belajar agama), seperti pondok modern Gontor. Adapun yang berkenaan dengan Ramadhan, Ahmad Syarifuddin menyatakan bahwa Ramadhan berasal dari asal kata bahasa Arab “ramadha-yarmudhu-ramadhan” yang artinya panas membakar. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka menamakan bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Dengan demikian istilah Pondok Ramadhan mengandung arti suatu rangkaian kegiatan pembelajaran agama secara totalitas (adanya penginapan/pemondokan selama satu hari atau lebih) yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dalam rangka mempersiapkan anak didiknya untuk menjadi generasi yang memiliki kedalaman spiritual dan berkepribadian Islami yang dilakukan di bulan Ramadhan.

Dalam menjadikan Siswa yang berkarakter SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir  Di Kegiatan Pondok Ramadhan 1442 H/2021 M Yang menjadi pemateri di kegiatan Pondok Ramadhan 1442 H /2021 M Adalah Siswa / Siswi SMP PGRI 6 Surabaya Dimana yang menjadi Imam Sholat Dhuha dan Sholat Hajat adalah HABIBI Siswa Kelas 8 SMP PGRI 6 Surabaya Sedangkan Setelah Sholat Dhuha yaitu NGAJI  Yang di pimpin oleh MOCH. SUIB  Kelas 8 Dan ANDI MASYPUTRA Kelas 6 SDS AL IKHLAS Surabaya Dalam Hal ini Penulis yang juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Alumni Jurusan PLS UNESA Kelahiran APRIL 1984  Tersebut menyampaikan Bahwa Tujuan siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya adalah untuk Mengajarkan karakter yang dimiliki oleh Siswa, Sehingga siswa merasa nyaman disamping itu agar orang tua juga tahu bahwasannya Putra / Putri Mereka  bisa menjadi anak yang hebat dan bisa membanggakan Orang Tua Mereka

#Tantangan Guru Siana     

# dispendik Surabaya

#Guruhebat