Kamis, 07 Mei 2020

“ Penguatan Pendidikan Karakter Melalui PEMBELAJARAN ON LINE DI MASA PANDEMI COVID – 19




































“ Penguatan Pendidikan Karakter Melalui PEMBELAJARAN ON LINE DI MASA PANDEMI COVID – 19

                                                                                                                                                Hari Ke - 114
Pada era sekarang ini, sumber daya manusia yang baik banyak dibutuhkan terutama bagi negara-negara yang maju apalagi negara yang sedang berkembang contohnya Negara Indonesia.  Sumber daya manusia yang baik ditentukan melalui tingkat pendidikannya. Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan sumber daya manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan membentuk  karakter  serta    peradaban    bangsa    yang    bermartabat    dalam    rangka    mencerdaskan  kehidupan  bangsa. Dalam pembentukan karakter (watak) peserta didik, rumusan dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional  tersebut  tidak  secara  nyata  diimplementasikan  dalam  kebijakan  pendidikan  maupunpraktek di sekolah, baik dalam kegiatan proses belajar mengajar dalam kelas maupun di luar kelas. Berbagai  kasus  yang  tidak  sejalan  dengan  etika,  norma,  moral  atau perilaku  yang  menunjukkan rendahnya karakter telah banyak terjadi dalam kehidupan di masyarakat.Berbagai  kasus  yang  pernah  terjadi  di  Indonesia  telah  merusak  keteladanan  peserta  didik  dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang mulia.  Seperti tawuranmahasiswa dan antar pelajar, kasus kekerasan terhadap anak didik, kasus narkoba dan perjudian, pornografi dan pornoaksi yang ditunjukkan oleh kalangan siswa, hubungan seks bebas yang menjangkiti siswa dan mahasiswa, dan sebagainya.Permasalahan yang diuraikan di atas, terjadi karena belum optimalnya penanaman nilai-nilai luhur pancasila terhadap peserta didik dalam kelas yang mengacu pada pembentukan karakter dan budaya bangsa  Indonesia.  Di  samping  itu,  krisis  keteladanan  dan  kurangnya  panutan  yang  dicerminkan para  pendidik,  tokoh agama,  birokrat  pemerintah,  elit  politik  dan  elemen  masyarakat  sehingga menjadikan  generasi  penerus  khususnya  peserta  didik  tumbuh  liar,  memiliki  karakter  dan kepribadian  yang  lemah.  Dengan  ini  sangat  dibutuhkan  peran  dari guru  dalam  membentuk  dan mengembangkan pendidikan karakter siswa dalam kelas.  Guru harus terus berupaya membenahi dan mengembangkan pendidikan karakter yang melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam kelas.Selain itu pendidikan yang  dapat  membentuk  atau  mengembangkan  karakter  adalah  pendidikan dalam  pembelajaran  kimia.    Dalam  pembelajaran  kimia,  sebagian  besar  materi  dalam  ilmu  kimia adalah abstrak.  Oleh  karena  itu,  perlu  adanya  pemahaman  yang  baik  dengan menerapkan  media interaktif  guna  tercapainya  pendidikan  karakter  yang  baik  sesuai  dengan  tujuan  dari  sistem pendidikan nasional di Indonesia.  Pendidikan termasuk pendidikan kimia harus selalu diusahakan berjalan  efektif.  Pendidikan  disebut  efektif  apabila  proses  pendidikan  berhasil.  Berhasil  artinya memperoleh produk  yang  baik  atau  hasil  belajar  yang  tinggi.  Salah  satu  indikator  efektivitas pendidikan kimia ditunjukkan  tingginya  nilai  kimia  yang  dicapai  peserta  didik.  Nilai  tinggi  mata pelajaran  kimia  baru  dicapai  sebagian  kecil  peserta  didik,  yaitu  peserta  didik  di  dalam  kota  dan belum  merata  pada  peserta  didik  lainnya.    Oleh  karena  itu  efektivitas  pendidikan  kimia  masih menjadi masalah hingga saat ini.Dalam  kaitan  dengan  penggunaan  media  pembelajaran  interaktif,  maka  yang  menjadi  perhatian bagi  setiap  guru  adalah  bagaimana  seorang  guru  mampu  memilih  dan  menggunakan  serta menyesuaikan dengan materi, sifat dan karakteristik ilmu pengetahuan serta karakteristik dari siswa.  Penggunaan  media  dalam  pembelajaran  bertujuan  untuk  membantu  siswa  dalam  penguasaan materi pelajaran  dan  memiliki  keterampilan.  Dalam  hal  ini  guru  harus  benar-benar  mampu mendesain proses pembelajaran dan menentukan materi yang akan disampaikan dan dengan media apa   disajikan.   Salah   satu   upaya   yang   dapat   dilakukan   adalah   dengan   penggunaanmediapembelajaran interaktif, sehingga dapat mendorong siswa lebih mudah dalam memahami konsep-konsep pembelajaranSelain   penggunaan   media   pembelajaran   interaktif, guru juga   harus   dapat   memperhatikan komunikasi  interpersonal  yang  dimiliki  oleh  siswa.    Keberhasilan  belajar  tergantung  bagaimana siswa dapat menyampaikan kemampuan akan analisisnya terhadap pembelajaran Kimia yang padaakhirnya   akan   menciptakan   siswa   memiliki kemampuanberkomunikasi.Olehsebab   itu, penggunaan media pembelajaran interaktif perlu dikaji, apakah dapat meningkatkan  hasil belajar kimia secara optimal.
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional UNIVERSITAS Negeri Surabaya pada  hari Rabu 6/5/2020 Pukul 10.00 Mengadakan seminar nasional  melalui Join Zoom Meeting
https://zoom.us/j/7570432284?pwd=MXhTRTJ0QnNTR3gvajJsVlZsalBjUT09  , Dalam kesempatan tersebut yang menjadi pembicara  dalam Seminar Nasional tersebut adalah Prof Dr.H. Haris Supratno Mantantan Rektor Universitas Negeri Surabaya  dan Ibu ARZETI Bilbina HuzaimiM S,E , M.Ap Anggota DPR RI Komisi IX Dari Fraksi PKB , Dalam kesempatan tersebut  Prof Dr. H. HARIS SUPRATNO  Memaparkan PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
MELALUI PEMBELAJARAN ONLINE PADA MASA PANDEMI COVID 19 OLEH GURU PROFESIONAL , Sedangkan materi
PERAN LEGISLATIF DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI TENGAH PANDEMI COVID 19 disampaikan oleh Ibu ARZETI Bilbina HuzaimiM S,E , M.Ap Anggota DPR RI Komisi IX Di akhir penutup LP3M UNESA Memberikan Angket isian https://bit.ly/EvaluasiSemnasLP3M , Penulis berharap acara Seminar DARING Tersebut dapat diadakan oleh UNESA di waktu waktu mendatang apalagi di masa pandemic COVID – 19 tersebut.
#Tantangan Guru Siana
# dispendik Surabaya
#Guruhebat


Rabu, 06 Mei 2020

“ WEBINAR III Satu Derap Seribu Langkah Guru Pengerak Menjawab Untuk Negeri Tercinta “






























“  WEBINAR III Satu Derap Seribu Langkah Guru Pengerak Menjawab  Untuk Negeri Tercinta “
                                                                                    Hari Ke - 113

PERNYATAAN Mas Menteri Nadiem Makarim dalam simposium kepala sekolah dan pengawas di Jakarta yang mengamanahkan kepala sekolah untuk mencari satu saja guru penggerak di sekolahnya untuk dilindungi, didukung, dan memberikan kewenangan untuk melakukan perubahan yang diinginkan. Tanpa ragu Mas Menteri juga menambahkan bahwa guru penggerak itu biasanya “nakal”, memodifikasi kurikulum lebih engaging, membuat kelas yang menyenangkan, tidak segan-segan mengajak muridnya keluar dari kepenatan kelas, meracik metode baru dari segala sumber yang didapatkan untuk selanjutnya diterapkan dalam pembelajarannya. Namun, tidak heran juga jika sering kali apa yang dilakukan guru penggerak tersebut tidak pernah mendapatkan apresiasi dari beragam inovasi yang dilakukan. Sebaliknya, tidak jarang pula guru-guru penggerak yang berpikir dan bertindak gila tersebut malah mendapatkan stigma gila dan merusak tatanan yang telah rapi sebelumnya. Harapan besar Mas Menteri untuk mencari satu saja guru penggerak tersebut kepada para kepala sekolah untuk diberikan kepercayaan diri melanjutkan kegilaannya dan komitmen kepala sekolah untuk juga berani pasang badan terhadap inovasi dan kreativitas sang guru penggerak tersebut menarik sekali untuk dianalisis. Guru penggerak pada era Revolusi Industri 4.0 seperti saat ini menjadi kebutuhan mendasar bagi sekolah untuk terus mampu menumbuhkembangkan inovasi dan kreativitas yang diyakini bisa mendorong cepatnya reformasi pendidikan bagi bangsa Indonesia. Guru penggerak itu akan menjadi inspirasi bagi guru-guru yang lainnya. Menginspirasi bagi peserta didiknya, dan pada akhirnya jika diberikan keleluasaan penuh oleh kepala sekolah akan membuat lembaga pendidikan tersebut melesat dan menjadi pembeda bagi sekolah yang lainnya. Pinter Goblok Gaji Sama (PG2S) adalah akronim yang merupakan dosa warisan turun-temurun dari masa lampau dan telah menjadi virus akut yang tanpa sadar membunuh pelaku pendidikan, baik yang berstatus PNS maupun non-PNS. Pendek kata, menjadi guru yang NgaPu-NgaPu (Ngajar-Pulang-Ngajar-Pulang) dan menjadi guru penggerak yang penuh kreativitas dan inovasi, guru yang masih mempunyai waktu untuk membangun sekolah ternyata mempunyai gaji dan tunjangan yang sama. Secara pragmatis tentang bagaimana fakta gaji dan tunjangan guru berdasarkan masa kerja bukan berbasis kinerja semakin membuat kebanyakan guru terbelenggu dalam penjara mental PG2S. lebih parah lagi, lebih bahagia mencari tambahan penghasilan di luar sekolah. Secuil tips untuk penganut aliran PG2S adalah terbanglah pada masa di mana niat awalmu menjadi guru adalah untuk membangun bangsa Indonesia tercinta ini melalui memberikan pendidikan yang baik untuk bekal generasi penerus bangsa mencapai impiannya. Napas sang guru penggerak adalah mencipta perubahan, perubahan kecil dari ruang-ruang kelas dengan mengajar mendidik dan menghantar para peserta didiknya agar mampu mengimbangi tuntutan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Perubahan yang tercipta dari inovasi dan kreativitas untuk para siswa dan semua pelaku pendidikan di sekolah jika dilakukan dengan penuh cinta dan komunikasi baik tentunya akan menjadi pendorong yang lainnya mengikuti perubahan. Sehingga, apa yang disampaikan Mas Menteri Nadiem Makarim jika setiap guru melakukan perubahan dengan serentak, kapal besar bernama pendidikan Indonesia yang berkualitas akan tergerak bukanlah hal yang utopis. Masih menurut Mas Menteri, setidaknya ada lima perubahan kecil yang bisa dilakukan guru dari dalam kelas yaitu dengan mengajak lebih sering siswa berdiskusi, memberi ruang yang lebih luas untuk murid berperan menjadi guru, mencetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan semua kelas, menemukan bakat pada murid yang kurang percaya diri, dan menawarkan kepada guru lain ketika mengalami kesulitan untuk melakukan apa pun (kolaboratif). Kelima contoh perubahan kecil itu tentu saja bisa dilakukan dengan melakukan gebrakan-gebrakan yang tentu saja membutuhkan proses yang panjang untuk menjadi kebiasaan yang produktif di dalam lingkungan sekolah. Di samping itu, sang guru penggerak harus siap mendapatkan “perlawanan” dari murid maupun guru yang terkadang sulit untuk menerima perubahan. Perubahan sekecil apa pun bagi pelaku pendidikan yang telah nyaman dalam zona kenyamanan, penganut keseragaman dan cenderung anti perubahan tentu saja akan menjadi hambatan tersendiri bagi sang guru penggerak. Di sinilah peran kepala sekolah sebagai manajer yang profesional harus berani pasang badan memberikan kepercayaan guru penggerak untuk mendobrak perubahan positif. Pembelajaran era disrupsi yang kecepatan perubahannya melebihi kecepatan kedipan mata menuntut para pelaku pendidikan untuk segera melakukan perubahan. Gerakan reformasi pendidikan tidak bisa bersifat top down atas kuasa pemerintah melalui penganggaran yang besar kepada kementerian pendidikan. Namun, akan lebih dahsyat dan cepat hasilnya jika perubahan itu dilakukan oleh individu-individu yang disebut di atas dengan lahirnya para guru penggerak. Tidak indah kiranya jika bangsa Indonesia mengulang sejarah yang sama hingga muncul anekdot bahwa ganti menteri adalah sama dengan ganti kurikulum. Anekdot itu menurut penulis lebih bentuk keputusasaan tidak bisa melakukan perubahan mendasar seperti yang diharapkan banyak orang, namun dengan perubahan kurikulum bisa diharapkan bisa menghegemoni kebanyakan orang. Menghadapi perubahan yang super cepat sebenarnya telah banyak dilakukan oleh para guru penggerak untuk selalu berbuat “gila” di sekolahnya dengan penguatan beberapa kompetensi penting seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, cara berpikir secara matematis, dan juga kebatinan kepada sesama. Kompetensi ini harus dibentuk dan menjiwai pada semua pelaku pendidikan, bukan hanya kepada para peserta didik, namun juga kepada guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tentunya kepada semua pemangku kebijakan pendidikan. Kompetensi kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis stimulan yang bisa dilakukan kepada siswa dalam penilaian tentu saja adalah dengan berani “hijrah” dari soal pilihan ganda menjadi soal uraian yang berbasis HOTS (high order thinking skills). Pada soal uraian yang bersifat HOTS akan memberi peluang kepada peserta didik untuk bisa berselancar bebas berpikir dalam memberikan argumentasi dari setiap soal yang dibuat oleh guru. Sumbangsih guru penggerak dalam berpikir logis secara matematis salah satunya adalah bagaimana membuat sistem pelaksanaan program/kegiatan sekolah yang efektif dan efisien. siapa pun presidennya, ganti berapa kali pun menteri pendidikannya, sebagus apa pun kurikulumnya, namun jika guru sebagai garda terdepan suksesnya pembelajaran di kelas untuk menyiapkan masa depan bangsa terlupakan, maka upaya menciptakan generasi emas masa depan bangsa Indonesia sama saja dengan menjaring angin. Di sinilah terlihat bagaimana pentingnya peran guru. Terciptanya semakin banyak guru-guru gila penggerak yang mampu mendobrak perubahan sangat penting disegerakan. Meskipun negara mengagendakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), namun sang guru penggerak boleh mengadakan Ujian Nasional Berbasis Laptop (UNBL) bahkan jika bisa berbasis Android (UNBA). Langkah kecil yang sebenarnya sangat fantastis ini pada banyak tempat juga masih menjadi persinggungan yang serius. Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang sekian lama hanya berjalan 3 bulan dan baru mulai tahun ajaran baru 2019/2020 berlangsung 6 bulan dilakukan oleh guru penggerak dengan melaksanakan PSG selama 1 tahun sejak 4 tahun yang lalu sebagai bentuk terobosan juga menyisakan polemik. Perubahan paradigma menjadi faktor pendukung yang kuat agar kompetensi-kompetensi tersebut di atas bisa dilakukan secara masif hingga hasil perubahan pendidikan yang jauh lebih baik segera dilihat dan dirasakan banyak orang. Pergeseran paradigma menurut bahasa adalah suatu hal simpel dan biasa, namun ternyata praktiknya sangat sulit dilakukan. Pejabat pemangku pendidikan harus menggeser paradigma berpikir dari hanya berdiam diri menunggu masukan bawahan, dengan lebih mendekatkan diri kepada sekolah untuk mendengarkan langsung kendala-kendala yang dialami sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengawas sekolah yang selama ini menjadi perwujudan manusia setengah dewa yang menakutkan bagi guru dan kepala sekolah harus bergeser paradigmanya menjadi peran teman diskusi yang menyenangkan dan mencerahkan. Kepala sekolah yang sebelumnya selalu memosisikan diri sebagai atasan dan cenderung menunggu laporan Asal Bapak Senang (ABS) harus berubah menjadi seorang leader yang lebih banyak mendengar apa yang diharapkan masyarakatnya di sekolah. Sementara itu, para guru yang biasanya hanya melakukan pembelajaran searah dan bersifat transfer pengetahuan ke siswa harus bergeser menjadi teman diskusi yang menginspirasi bagi peserta didik. Modifikasi pembelajaran yang dilakukan guru penggerak dengan melompat dari kepenatan tuntutan kurikulum dan jauh dari kebutuhan mendasar yang menjadi bekal nyata bagi lulusan SMK pada banyak tempat juga menjadi pemantik polemik berkepanjangan. Polemik yang pada dasarnya berangkat dari suatu langkah yang di luar kebiasaan karena membentur aturan birokrasi menjadi sangat sulit untuk dilaksanakan. Para guru harus berpikir kritis bahwa keseragaman kurikulum sistem paket dari pusat tentu saja sering kali tidak bisa dilakukan sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, satu daerah dengan daerah lainnya, dan suatu sekolah di perkotaan dengan daerah pedesaan dan juga daerah terpencil. Sehingga, sebenarnya guru bisa memodifikasi implementasi kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhan pasar di sekitar sekolah yang langsung bisa sangat berguna bagi lulusan untuk pengabdian ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Akhirnya, sebagai guru marilah kita berebut menjadi guru penggerak demi terselenggaranya pendidikan yang sesuai tuntutan zaman.
Dalam masa Pandemi COVID – 19 ini Guru pengerak sangat berperan dalam kegiatan belajar  mengajar  , dalam kesempatan ini penulis yang juga  Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No. 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir pada hari Rabu 6/5/2020 mengikuti kegiatan Webinar III yang diadakan oleh Media Guru kerjasama dengan INDOSAT Oredo  dalam kesempatan tersebut yang menjadi pembicara adalah Alphian Sahruddin , S.Pd , M.Pd Dian Intan Marsifa Fauzia , S.PdSd , Elly Alpes Jusa S.Pd , Tri Sulistini, S.Pd., M.Pd.. komunitas penulis terbesar di Indonesia yang terbentuk dan bergabung dengan Media Guru Indonesia ,menjadi barisan panjang guru penggerak penggiat literasi yang tumbuh dari hati dan menularkan semangat menulis ke seluruh pelosok Indonesia. Suatu gerakan nirlaba yang lebih mendahulukan maju bersama mengisi pembangunan bangsa lewat tangan lembut dunia pendidikan yaitu guru. Hal ini gerak nyata arus bawah yang berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas . Kegiatan webinar 3 Media guru betul-betul memberi gambaran bagaimana guru penggerak bergerak diseluruh Indonesia sampai ke wilayah 3T.pengalaman, hambatan, tantangan yang dihadapi tidak.membuat guru penggerak putus asa melainkan menjadi pendobrak semangat untuk terus berkarya dan berjaya. Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan Terimakasih kepada Media Guru dan INDOSAT yang sudah menyelenggarakan Kegiatan WEBINAR III Tersebut Serta Untuk Media Guru  teruslah Berkarya dan Berjaya Untuk Negeri ini melalui Sebuah Tulisan.
#Tantangan Guru Siana
# dispendik Surabaya
#Guruhebat