Sabtu, 23 Mei 2026

Menenun Generasi Emas: Sinergi Peran Orang Tua dan Budaya Sekolah dalam Pendidikan Karakter Di Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya








 


Menenun Generasi Emas: Sinergi Peran Orang Tua dan Budaya Sekolah dalam Pendidikan Karakter Di Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya

 

 

 

Pendidikan karakter kini bukan lagi sekadar suplemen dalam kurikulum, melainkan inti dari seluruh proses pendidikan itu sendiri. Di tengah gempuran era digital dan disrupsi moral, kecerdasan akademis semata tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan anak. Anak membutuhkan kompas moral yang kuat: jujur, empati, tangguh, dan bertanggung jawab.Pertanyaannya, siapakah yang paling bertanggung jawab memahat karakter tersebut? Jawabannya terletak pada dua pilar utama kehidupan anak: Orang tua di rumah dan Budaya yang hidup di sekolah.

Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Selalu mengajak siswa / siswi Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya  untuk menerapkan  BUDAYA SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN  Orang tua adalah "kurikulum tersembunyi" pertama bagi anak. Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, mereka telah merekam, meniru, dan menginternalisasi nilai-nilai yang dipraktikkan di dalam rumah. Beberapa peran krusial orang tua dalam pendidikan karakter antara lain:

1) Keteladanan (Modelling): Anak adalah peniru ulung. Orang tua yang menginginkan anaknya jujur harus menunjukkan kejujuran dalam ucapan sehari-hari. Karakter tidak bisa diajarkan lewat instruksi verbal semata, melainkan lewat perilaku yang disaksikan anak setiap hari.

2) Pemberian Kasih Sayang dan Rasa Aman: Anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah yang penuh penerimaan dan minim kekerasan emosional cenderung memiliki regulasi emosi yang baik. Rasa aman di rumah membuat anak tidak perlu mencari validasi negatif di luar rumah.

3) Pembiasaan (Habitual Action): Menanamkan disiplin melalui aturan rumah yang konsisten, seperti merapikan tempat tidur, berbicara dengan santun, hingga membatasi waktu layar (screen time).

 

Jika rumah adalah tempat menanam benih karakter, maka sekolah adalah tanah tempat benih itu tumbuh dan diuji. Namun, pendidikan karakter di sekolah tidak akan efektif jika hanya diajarkan sebagai materi hafalan di kelas Pancasila  atau Agama. Karakter harus mewujud menjadi Budaya Sekolah (School Culture). Budaya sekolah adalah totalitas atmosfer, aturan, tradisi, dan interaksi sehari-hari yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Budaya sekolah yang sehat mencakup:

Dalam kesempatan ini Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya  Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN Unesa  Menyampaikan bahwa Membentuk karakter anak tidak bisa dilakukan secara parsial atau dibebankan kepada satu pihak saja. Orang tua dan sekolah laksana dua sayap dari seekor burung; jika salah satunya patah atau tidak berfungsi, maka anak tidak akan pernah bisa terbang tinggi menuju potensi terbaiknya. Ketika rumah memberikan fondasi kasih sayang yang kokoh dan sekolah menyediakan ekosistem budaya yang sehat, maka kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun secara moral.

Penulis

     H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd

    Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan   Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E

Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id        

    NO HP 083857963098

Tidak ada komentar:

Posting Komentar