Sabtu, 14 Desember 2019

“ Akreditasi Bermutu Untuk Pendidikan Bermutu “








































“ Akreditasi Bermutu Untuk Pendidikan Bermutu “
Pendidikan yang bermutu merupakan impian dan tujuan semua stakeholder pendidikan. Mutu pendidikan dibangun melalui penguatan mutu setiap unsur 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan.  Perwujudan mutu dalam setiap Standar Nasional Pendidikan merupakan output kerjasama kolektif kolegial dari seluruh komponen stakeholders pendidikan.  Sejauhmana ketercapaian setiap Standar Nasional Pendidikan diukur setiap tahun melalui evaluasi diri sekolah/madrasah. Dan secara eksternal akan diverifikasi, diklarifikasi, dan divalidasi melalui kegiatan akreditasi sekolah/madrasah.Pada saat kegiatan visitasi sekolah/madrasah, sebagai asesor penulis menemukan beberapa hal yang menarik yang layak kita diskusikan, kita renungkan, dan kita carikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang sering ditemukan. Ada banyak persoalan yang mesti diurai demi peningkatan mutu pendidikan nasional. Beberapa persoalan tersebut antara lain: 1) Pengisian DIA (Daftar Isian Akreditasi) sekolah/madrasah kurang memperhatikan petunjuk teknis dalam instrumen akreditasi.  Disamping itu, dalam pengisian dipercayakan pada seorang operator, tidak melalui tim penanggung jawab 8 SNP yang  seharusnya dibentuk oleh sekolah.  Dampaknya adalah tidak semua potensi yang ada di sekolah/madrasah tercover sehingga merugikan sekolah. 2) Dalam penyusunan dokumen 1 (Buku 1) KTSP tidak melibatkan narasumber dan pengawas sekolah/madrasah.  Dampaknya adalah ada beberapa unsur yang terlewatkan, terlebih sekolah/madrasah yang berada di lingkungan pesantren di mana struktur kurikulum, jam belajar, dan minggu efektif bergantung kebijakan pondok pesantren.  Kondisi ini harus disikapi secara profesional mengingat sekolah/madrasah yang berdiri di atas "dua kaki" harus mencari komposisi yang ideal dan mengakomodir keduabelah pihak baik regulasi pesantren maupun regulasi pemerintah.  Di sini dibutuhkan reengineering kurikulum yang harus didesain dengan bijak dan taat pada spek normatif. Persoalan yang ke-3 adalah kesadaran administratif dari tenaga pendidik dan kependidikan. Banyak ditemukan administrasi yang serba baru, yang format dan sistematikanya tidak sesuai dengan regulasi pada masanya.  Proses yang serba dikebut dalam waktu sesaat tak ubahnya kisah Bandung Bondowoso yang membuat candi Prambanan dalam semalam.  Dampaknya adalah ketidaksesuaian antara desain program tahunan, semester, dan RPP. Tidak itu saja, banyak ditemui administrasi pembelajaran yang pabrikan dan tidak diadaptasi sesuai kondisi senyatanya.  Sudah seharusnya administrasi pembelajaran memang genuine produk setiap pelaku pendidikan sehingga disadari betul semua skenario yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran. Memang membangun kesadaran administratif tidak mudah, tetapi penulis yakin setiap lembaga pendidikan baik sekolah/madrasah mencari kiat-kiat khusus.  Sebagai contoh setiap bulan ada gerakan hari administratif yang tujuannya adalah menyusun administrasi yang dilakukan secara bertahap dan berkala.  Persoalan ke-4 adalah minimnya jumlah guru yang telah disertifikasi. Dalam pandangan penulis instrumen yang berkaitan dengan jumlah guru yang disertifikasi tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah/madrasah karena kuota guru yang disertifikasi bukan wewenang sekolah/madrasah. Persoalan ke-5 adalah sarana laboratorium. Banyak sekolah/madrasah yang laboratoriumnya masih mengadopsi 3 in 1, di mana laboratorium Fisika, Kimia, dan Biologi masih menyatu. Selain itu, belum dikelola dengan administrasi yang baik, semisal setiap laboratorium memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur). Hal ini disebabkan oleh daya kreatifitas sekolah/madrasah yang belum total dalam mewujudkan laboratorium. Persoalan ke-6 adalah pada aspek pengelolaan sekolah/madrasah tidak disusun analisis SWOT dan Renstra (Rencana Strategis). SWOT merupakan sebuah fundamen dari rencana strategis yang memperhatikan aspek internal dan aspek eksternal. Dengan analisis SWOT maka sekolah/madrasah mengetahui apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.  Dengan berlandaskan SWOT sekolah/madrasah dapat menyusun rencana strategisnya. Sayangnya kesadaran untuk melakukan analisis SWOT secara sungguh-sungguh belum banyak penulis ditemukan pada saat visitasi.  Dampaknya adalah mengelola sekolah/madrasah dengan progres yang relatif lambat dan daya saing yang rendah. Dengan ketiadaan rencana strategis maka pengelola sekolah/madrasah tidak memiliki daya inovasi dan pengembangan ke arah yang lebih baik. Melihat berbagai permasalahan yang penulis temukan di atas menunjukkan bahwa budaya mutu belum sepenuhnya disadari betul oleh setiap pemangku kepentingan di sekolah/madrasah.  Pertanyaannya adalah mengapa ghirah mewujudkan pendidikan yang bermutu rendah?. Apakah karena minimnya finansial sehingga tidak leluasa dalam mengembangkan sekolah, atau karena daya inovasi yang kurang?.  Jawabannya ada dalam diri setiap penyelenggara pendidikan. Akredasi sejatinya merupakan instrumen untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Bukan hanya status akreditasi/nilai akreditasi yang keluar pasca visitasi yang diharapkan, akan tetapi bagaimana persiapan-persiapan yang dilakukan itu menjadi budaya mutu yang dilakukan setiap stkeholder pendidikan.  Jadi budaya mutu yang suatainable yang diharapkan, yang dilakukan secara kontinyu setiap melakukan aktifitas pendidikan. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi dari setiap insan pendidikan bahwa profesionalisme merupakan instrumen kunci mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Dalam mewujudkan Akreditasi  bermutu untuk pendidikan bermutu , Pada Hari Sabtu 14/12/2019 MKKS SMP Swasta Surabaya Utara mengadakan Pelatihan Sosialisasi Instrumen Akreditasi Sekolah  Tahun 2020  yang di adakan di SMP AL-IRSYAD Surabaya , Dalam kesempatan tersebut Ibu Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Ibu HJ IDA AMBARINI , S.Pd ,M.M Mengajak untuk seluruh Kepala SMP Swasta Surabaya Utara dan Waka Kurikulum untuk mempersiapkan  Akreditasi Sekolah Tahun 2020 , Yang memberikan Materi Instrumen Akreditasi adalah Bapak DR. Drs. H. RUDDY WINARKO , M.BA, M.Sc Selaku Tim Penyusun Instrumen Akreditasi tersebut , Pak Rudy  menjelaskan materi – materi pelaksanaan Akreditasi Sekolah Tahun 2020 , Di akhir acara Kegiatan SOSIALISASI AKREDITASI 2020 di hadiri Oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Bapak Drs. SUPOMO , M.M Di damping oleh  Bapak Kepala Bidang Sekolah Menengah Bapak Drs. SUDARMINTO , M.Pd, Dalam Kesempatan tersebut Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Mengajak seluruh Kepala Sekolah untuk menjalin kominikasi yang baik antara Dinas Pendidikan , Serta Beliau berpesan agar Mampu ngopeni anak anak seperti harapan Ibu walikota Surabaya. Bapak Kepala Dinas Pendidikan membuat Tak Line : Anaku Anaku Anaku . Itu yang di sampaikan saat acara Akreditasi SMP Swasta Surabaya Utara ,

Rabu, 11 Desember 2019

“ Ajarkan Sedini Mungkin Bahasa Pemrograman Melalui MICROSOFT Kepada anak didik Kita “
















































“ Ajarkan Sedini Mungkin Bahasa Pemrograman Melalui MICROSOFT Kepada anak didik Kita

Hour of code Indonesia adalah bagian dari gerakan global Hour of Code, yang di inisiasi oleh NGO Code.org untuk memberdayakan 200 juta anak di Dunia belajar pemrograman komputer atau coding. Bahasa pemrograman, atau sering diistilahkan juga dengan bahasa komputer atau bahasa pemrograman komputer, adalah instruksi standar untuk memerintah komputer. Bahasa pemrograman ini merupakan suatu himpunan dari aturan sintaks dan semantik yang dipakai untuk mendefinisikan program komputer. Bahasa ini memungkinkan seorang programmer dapat menentukan secara persis data mana yang akan diolah oleh komputer, bagaimana data ini akan disimpan/diteruskan, dan jenis langkah apa yang akan diambil dalam berbagai situasi secara persis. Bahasa Pemrograman (programming language) adalah sebuah instruksi standar untuk memerintah komputer agar menjalankan fungsi tertentu. Bahasa pemrograman ini merupakan suatu himpunan dari aturan sintaks dan semantik yang dipakai untuk mendefinisikan program komputer. Bahasa ini memungkinkan seorang programmer dapat menentukan secara persis data mana yang akan diolah oleh komputer, bagaimana data ini akan disimpan/diteruskan, dan jenis langkah apa secara persis yang akan diambil dalam berbagai situasi. Fungsi bahasa pemrograman yaitu memerintah komputer untuk mengolah data sesuai dengan alur berpikir yang kita inginkan. Keluaran dari bahasa pemrograman tersebut berupa program/aplikasi. Contohnya adalah program yang digunakan oleh kasir di mal-mal atau swalayan, penggunaan lampu lalu lintas di jalan raya, dll. Bahasa Pemrograman yang kita kenal ada banyak sekali di belahan dunia, tentang ilmu komputer dan teknologi dewasa ini. Perkembangannya mengikuti tingginya inovasi yang dilakukan dalam dunia teknologi. Contoh bahasa pemrograman yang kita kenal antara lain adalah untuk membuat aplikasi game, antivirus, web, dan teknologi lainnya. Bahasa pemrograman komputer yang kita kenal antara lain adalah Java, Visual Basic, C++, C, Cobol, PHP, .Net, dan ratusan bahasa lainnya. Namun tentu saja kebutuhan bahasa ini harus disesuaikan dengan fungsi dan perangkat yang menggunakannya
SMP PGRI 6 Surabaya adalah Sekolah Peduli Berbudaya Lingkungan  yang terletak di Jalan Bulak Rukem III N0. 7 – 9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir , Pada hari Kamis 12/12/2019 , Sebanyak 32 Siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya mengikuti kegiatan  coding is the Language Of The Future yang di adakan Oleh MICROSOFT Dalam Kesempatan tersebut 32 Siswa Tersebut Di bagi menjadi 2 kelompok pertama berjumlah 16 Siswa Putra dan 16 Siswa Putri, dimana seluruh siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya  membawa  HP Dari rumah masing – masing untuk mengikuti kegiatan tersebut, dalam kesempatan tersebut Tim Dari SMP PGRI 6 Surabaya di damping Oleh Bapak Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Bapak H. BANU ATMOKO , S.Pd , Proktor  Ibu MEI RATNA SUSANTI , S.Si dan Ibu DINA AYU SEPTYARINI , S.Pd , Dalam kesempatan tersebut seluruh siswa/ siswi SMP PGRI 6 Surabaya bermain  dengan santai sambil ngobrol dan bercanda di ruangan kelas 7 , Karena sering bermain Game alhamdulilah Permainan Tersebut bagi Peserta Didik di SMP PGRI 6 Surabaya sangat biasa  dimana  Siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya waktu tercepat yaitu MOCH. SUIB  Putra dari Ibu SAKINA Siswa Kelas 7 , M. Habibi Maulana Putra Dari Ibu DJUMHARIYAH , Achmad FADHIL ARDIANSYAH Putra Dari Ibu SITI ZAINAB Siswa Kelas 7 , Samsul Arifin Putra dari SAMIYAH Siswa Kelas 7 , Feby Sintiya sari Putri dari Ibu SITI AMANAH, Azis Syahputra Putra Dari  Ibu RODIYAH Siswa Kelas 7 , Syahbania Erlita Putri dari Ibu ERLIN WAHYUNI Siswa Kelas 7 Cindy Nur Afni Putri dari  Ibu ENDANG SUPRIHATIN Siswa Kelas 7, Nur Hidayati Siswa Kelas 7 Putri dari  Ibu RASIYAH , ZAINAL Fatah Putra dari Ibu SUADAH . Alhamdulilah karena Sering nya Bermain GAME Ke – 10 Siswa / siswi SMP PGRI 6 Surabaya mampu mencetak waktu tercepat di bandingkan 22 teman yang lain. Menurut Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Bapak H. BANU ATMOKO , S.Pd  Bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat luar biasa , karena siswa di samping bermain Game juga di ajak berpikir dengan Kata Kunci / Kode , sehingga siswa / siswi bisa Lebih peka , Dimana Coding adalah harapan yang di inginkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional