Di Balik Wangi Kamboja: Menemu Rindu pada Hari Ketiga Lebaran
Gema takbir mungkin sudah mulai melandai, dan keriuhan opor serta ketupat di meja makan perlahan menyusut. Namun, bagi banyak keluarga, Lebaran hari ketiga justru menjadi momen yang paling sakral secara emosional. Inilah saatnya melangkah menjauh dari hiruk-pikuk silaturahmi antar-rumah menuju sebuah tempat yang sunyi namun sarat makna: makam ibunda tercinta dan para leluhur.
Istilah sambang atau ziarah kubur setelah hari raya bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah bentuk "sowan" atau kunjungan kehormatan kepada mereka yang telah mendahului kita. Jika hari pertama dan kedua kita sibuk bermaaf-maafan dengan yang masih ada, maka hari ketiga adalah waktu khusus untuk menyapa mereka yang ruhnya tetap hidup dalam ingatan kita.
Berdiri di depan pusara Mama tercinta selalu menghadirkan rasa yang campur aduk. Ada rasa sesak yang samar, namun ada kedamaian yang mendalam. Di sana, di antara nisan yang dingin, kita seolah kembali menjadi anak kecil yang ingin mengadu tentang kerasnya hidup setahun belakangan.
Taburan Bunga dan Air Mawar: Setiap helai kelopak mawar dan melati yang ditebar adalah simbol doa yang tak putus.
Lantunan Doa: Membaca Surah Yasin atau tahlil di sisi makam Mama terasa seperti percakapan spiritual yang melampaui dimensi dunia.
Mengingat Pesan: Sembari membersihkan rumput liar di sekitar nisan, ingatan kita biasanya berputar pada masakan Lebaran favorit Mama atau nasehat-nasehat kecilnya yang dulu sering kita abaikan.
Setelah dari makam Mama, langkah kaki berlanjut menuju komplek pemakaman para leluhur. Mengunjungi makam kakek, nenek, hingga buyut adalah pengingat tentang asal-usul. Ziarah ke makam leluhur menyadarkan kita bahwa kita adalah rantai dari sebuah silsilah panjang. Keberadaan kita hari ini adalah buah dari doa dan perjuangan mereka di masa lalu. Ini adalah momen edukasi bagi generasi muda agar mereka tidak "kepaten obor" atau kehilangan jejak sejarah keluarganya sendiri.
"Ziarah bukan tentang mendatangi kematian, melainkan merayakan kehidupan yang pernah ada dan memetik pelajaran dari mereka yang telah pulang."
Pada Hari Senin 23/3/2026 bertepatan dengan hari ketiga Lebaran 1447 H /2026 M Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Pukul 16.00 bersama Ayah Penulis Kakak Dan Ponakan Tercinta mengunjungi Makam Mama Tercinta Kakek Nenek Dan BUYUT Yang di makam kan Di 1 Lokasi Di Tempat Pemakaman UMUM RANGKAH Surabaya Di dampingi Ustad ROCHIM Yang juga Guru Ngaji dari Ponakan Tercinta untuk Memimpin Pembacaan Yasin Dan Tahlil Di Makam Mama Tercinta, Selepas Pembacaan Yasin Dan TAHLIL Kakak Penulis Menaburkan Bunga Di Makam Mama Tercinta Dan Di Makam Leluhur dari Penulis
Pulang dari pemakaman di hari ketiga Lebaran biasanya membawa perasaan yang berbeda. Ada rasa lega karena telah menunaikan tugas kasih sayang, dan ada semangat baru untuk menjalani hidup dengan lebih baik—seperti yang diinginkan oleh Mama dan para leluhur kita.
Lebaran memang tentang kemenangan, dan kemenangan sejati adalah saat kita tetap mampu menjaga ikatan cinta, bahkan dengan mereka yang sudah tidak lagi bisa kita peluk raganya.
Penulis
H.BANU ATMOKO,S.Pd , M.Pd
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Alumni Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963
.jpeg)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar