Isra Miraj: Perjalanan Menjemput Cahaya Shalat dan Adab Terhadap Guru
Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan sejarah luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Bagi umat Muslim, ini adalah peristiwa revolusi spiritual di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah ibadah yang paling utama: Shalat lima waktu. Dalam perjalanan yang melampaui logika manusia tersebut, Rasulullah SAW berdialog langsung dengan Allah SWT. Hasilnya adalah perintah shalat. Shalat adalah "Mi’raj"-nya orang beriman; sarana bagi kita untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta di tengah hiruk-pukuk dunia. Jika Rasulullah menjemput perintah ini dengan perjuangan hebat, lantas pantaskah kita meremehkannya? Mengabaikan shalat berarti memutus tali hubungan kita dengan sumber ketenangan hidup. Marilah kita jadikan momentum Isra Miraj tahun ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas shalat tepat waktu.
Meneladani Adab: Menghargai Guru sebagai Penunjuk Jalan
Ada satu sisi penting dalam peristiwa Isra Miraj yang sering terlupakan: Peran Malaikat Jibril sebagai pembimbing. Sepanjang perjalanan, Rasulullah tetap menunjukkan adab dan kepatuhan kepada Jibril sebagai penunjuk jalan atas perintah Allah. Di dunia ini, guru adalah "Jibril-Jibril" dalam kehidupan kita. Mereka adalah pewaris ilmu yang membimbing kita dari kegelapan kebodohan menuju cahaya pengetahuan. Tanpa bimbingan guru, kita mungkin akan tersesat dalam memahami syariat maupun ilmu duniawi.
Mengapa kita harus menghargai guru?
1) Keberkahan Ilmu: Ilmu yang bermanfaat hanya didapat melalui ridha sang guru.
2) Penerus Dakwah: Guru adalah sosok yang menjaga agar pesan moral dan ibadah (seperti shalat) tetap sampai ke generasi berikutnya.
3) Penghormatan pada Proses: Menghargai guru berarti kita menghargai proses belajar dan rendah hati terhadap ilmu.
Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sebanyak 100 Siswa / Siswi Dan 12 Guru berkumpul di Ruangan Kelas 8 Untuk Memperingati ISRA MIRAJ NABI MUHAMMAD S.A.W 1447 H/ 2026 M Yang dimulai Pukul 07.30
Dalam kesempatan ini Penulis yang Juga Kepala SMP PGRI 6 Surabaya Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara yang lagi Menempuh Pendidikan S2 MANAJEMEN Pendidikan Di UNESA Surabaya Dalam sambutannya menyampaikan Peringatan Isra Miraj adalah tentang Kepatuhan dan Adab. Patuh kepada Allah dengan mendirikan shalat, dan beradab kepada guru dengan menghormati jasa-jasa mereka. Tanpa shalat, jiwa kita kering; tanpa bimbingan serta doa guru, langkah kita kehilangan arah. Mari kita tundukkan kepala sejenak, memperbaiki sujud kita, dan mengukir senyum di wajah guru-guru kita dengan akhlak yang mulia. Setelah sambutan Penulis dilanjutkan dengan Pembacaan Yasin Istighosah Oleh Ustad H. ALAIKAR ROCHIM ,S.Ag Kepala SMP KAWUNG 1 Surabaya Setelah Itu Pembacaan Sholawat Yang di pimpin Oleh Ustad MUFID ,S.Pd . I Selaku Guru Pendidikan Agama Islam Setelah Itu Ceramah Agama Oleh Ustad H. ALAIKAR ROCHIM ,S.Ag Kepala SMP KAWUNG 1 Surabaya
Sebagai penutup dari rangkaian peringatan peristiwa agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, ada tiga poin utama yang harus kita bawa pulang dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Shalat adalah "Mi'raj" bagi Orang Beriman
Peristiwa Isra Miraj membuktikan betapa istimewanya ibadah shalat dibandingkan ibadah lainnya. Jika perintah lain turun melalui wahyu, shalat dijemput langsung oleh Rasulullah ke Sidratul Muntaha.
Pesan Utama: Mari kita jadikan shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan beban, melainkan kebutuhan untuk bertemu dan mengadu kepada Allah SWT. Perbaiki shalat kita, maka Allah akan memperbaiki hidup kita.
2. Pentingnya Adab dan Penghormatan kepada Guru
Rasulullah SAW dalam perjalanannya didampingi oleh Malaikat Jibril sebagai penunjuk jalan. Ini mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun kecerdasan seseorang, ia tetap membutuhkan bimbingan seorang guru.
Pesan Utama: Ilmu tidak akan meresap tanpa ridha guru. Menghargai guru adalah kunci keberkahan ilmu. Jangan harapkan ketenangan dalam belajar jika kita kehilangan adab kepada mereka yang telah membukakan pintu cakrawala bagi kita.
3. Transformasi Diri: Dari Masjid ke Masjid
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa adalah simbol bahwa kehidupan seorang Muslim harus terpaku pada tempat suci (masjid) dan nilai-nilai kesucian.
Pesan Utama: Setelah peringatan ini selesai, seharusnya ada perubahan perilaku. Jika sebelumnya kita malas berjamaah, mulailah melangkah ke masjid. Jika sebelumnya kita kurang peduli pada sesama, mulailah menebar manfaat.
Penutup Singkat: "Isra Miraj adalah perjalanan vertikal menuju Allah (Shalat) dan perjalanan horizontal untuk memperbaiki akhlak (Adab). Mari kita pulang dengan tekad baru: Menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya dan memuliakan guru-guru kita sepanjang hayat."
"Menghargai guru adalah cara kita menghargai ilmu. Menjaga shalat adalah cara kita menghargai waktu."
Penulis
H.BANU ATMOKO
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963098


.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar