Menikah Itu Bukan Karena Sempurna, Tapi Dua Insan yang Saling Mengisi
Banyak orang memasuki gerbang pernikahan dengan bayangan tentang "pasangan sempurna"—sosok yang memahami tanpa dijelaskan, yang selalu romantis, dan jarang berbuat salah. Padahal, realitanya jauh dari itu. Pernikahan bukanlah muara dari pencarian kesempurnaan, melainkan sebuah perjalanan panjang bagi dua orang yang setuju untuk saling melengkapi di tengah ketidaksempurnaan.
1) Pernikahan: Pertemuan Dua "Manusia Biasa"
Kita sering terjebak dalam mitos soulmate yang harus selalu sejalan dalam segala hal. Faktanya, pernikahan adalah penyatuan dua individu dengan latar belakang, karakter, dan trauma masa lalu yang berbeda.
Menunggu hingga diri sendiri atau pasangan menjadi "sempurna" sebelum menikah hanya akan membuang waktu. Justru di dalam ikatan pernikahanlah, kekurangan-kekurangan tersebut muncul ke permukaan untuk kemudian dihaluskan bersama.
2) Bukan Tentang Menemukan, Tapi Menjadi
Alih-alih terus mencari sosok yang sempurna, esensi dari "saling mengisi" adalah tentang bagaimana kita menjadi pasangan yang tepat.
a) Saat pasangan lelah, kita menjadi tempat bersandar.
b) Saat kita sedang lemah, pasangan menjadi penguat.
c) Saat ada celah dalam karakter, pasangan hadir untuk menyeimbangkan.
·
Hubungan yang kuat tidak dibangun oleh dua orang yang hebat, melainkan oleh dua orang yang rendah hati untuk mengakui kesalahan dan mau belajar satu sama lain.
3) Keindahan dalam "Retakan"
Dalam seni Jepang, ada teknik bernama Kintsugi—memperbaiki keramik pecah dengan emas. Hasilnya, benda tersebut menjadi lebih indah dan kuat justru karena pernah retak.
Begitu pula dengan pernikahan. Perbedaan pendapat, kekurangan finansial, atau sifat yang menjengkelkan adalah "retakan-retakan" yang jika diisi dengan kesabaran dan kasih sayang, akan membuat ikatan suami-istri menjadi lebih unik dan bermakna.
4) Komitmen Melampaui Perasaan
Perasaan cinta bisa pasang surut, namun komitmen untuk "saling mengisi" harus tetap stabil. Saling mengisi berarti:
a. Mengisi kekosongan: Jika satu kurang dalam manajemen emosi, yang lain belajar untuk lebih tenang.
b. Saling memaafkan: Mengerti bahwa pasangan adalah manusia yang bisa salah.
c. Tumbuh bersama: Tidak membiarkan pasangan berjuang sendirian dalam memperbaiki diri.
Pada Hari Senin 29/12/2025 Penulis yang juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Yang terletak di Jalan Bulak Rukem III N0 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Yang lagi menempuh Pendidikan S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Bersama AINUL YAQIN ,S.Si , M.Pd , H. OEMAR ,S.Ag H. ALAIKAR ROCHIM ,S.Ag FEBRINA KUSUMA DEWI ,S.Pd Dra ERDIJANAH ALIMATUL ADIBAH ,S.Pd MIRZA DZIKRIE ,S.Pd.I LANANG SANTOSO ,S.Pd Pada Pukul 10.30 mendatangi kediaman Bapak CHUSNUL YAQIN ,S.Ag di Bulak Rukem VI No 20 Surabaya Untuk Menghadiri Acara Lamaran PUTRI Tercinta Bapak CHUSNUL YAQIN ,S.Ag
Dalam kesempatan tersebut Bapak H. OEMAR ,S.Ag membantu keluarga Bapak CHUSNUL YAQIN ,S.Ag menyiapkan COKLAT Dan Bapak H. ALAIKAR ROCHIM ,S.Ag memimpin Doa Untuk Kedua Mempelai
Calon Suami dari Puteri Bapak CHUSNUL YAQIN ,S.Ag menyampaikan Menikah bukan tentang menemukan kepingan puzzle yang sudah jadi dan pas, melainkan tentang dua batu kasar yang saling mengasah hingga keduanya menjadi permata yang berkilau. Jangan cari kesempurnaan, carilah seseorang yang siap untuk berjuang, belajar, dan menua bersama di dalam ruang-ruang ketidaksempurnaan itu.
Penulis
H.BANU ATMOKO
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963098


Tidak ada komentar:
Posting Komentar