Dua Belahan Jiwa dalam Langkahku: Ayah dan Keponakan Tercinta
Dalam perjalanan hidup, setiap orang memiliki sosok yang menjadi jangkar dan alasan untuk terus berjuang. Bagiku, dua sosok itu adalah Ayah dan Keponakan. Meski berada dalam posisi yang berbeda—satu sebagai panutan dan satu lagi sebagai pelipur lara—keduanya adalah bagian integral dari hidup yang tidak mungkin terpisahkan.
Ayah adalah cinta pertama sekaligus guru kehidupan yang paling nyata. Melalui tangannya yang kasar karena bekerja, aku belajar tentang arti tanggung jawab. Melalui diamnya, aku belajar tentang ketegaran. Bagi banyak orang, ayah mungkin hanya sosok kepala keluarga, namun bagiku, beliau adalah akar.
Ayah tidak selalu bicara tentang cinta, namun cintanya mengalir dalam setiap butir keringat yang ia teteskan demi melihat anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Kehadiran Ayah memberikan rasa aman yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Saat dunia terasa begitu bising dan melelahkan, nasihat sederhana darinya selalu menjadi penenang yang paling ampuh. Ayah adalah bukti bahwa pahlawan tidak selalu memakai jubah; terkadang mereka hanya memakai kemeja tua dan senyuman yang tulus.
Jika Ayah adalah akar yang menguatkan, maka Keponakan adalah bunga yang mewarnai hari-hariku. Kehadirannya membawa perspektif baru tentang kasih sayang yang tanpa syarat. Melihatnya tumbuh, mendengar tawa polosnya, hingga melihat tingkah lakunya yang menggemaskan adalah obat paling manjur untuk segala rasa lelah.
Menjadi seorang paman atau bibi memberiku kesempatan untuk mencintai tanpa beban berat sebagai orang tua, namun dengan ketulusan yang sama besarnya. Keponakan mengajariku untuk kembali melihat dunia dengan mata anak-anak: penuh keajaiban, tanpa dendam, dan penuh harapan. Setiap pelukan kecil darinya adalah pengingat bahwa hal-hal sederhana dalam hidup—seperti bermain bersama atau membacakan cerita—seringkali adalah hal yang paling berharga.
Memiliki Ayah yang tetap mendampingi dan Keponakan yang tumbuh dengan ceria adalah berkah ganda dalam hidupku. Ayah mengajarkanku bagaimana cara menjadi dewasa, sementara Keponakan mengingatkanku untuk tetap menjaga sisi anak-anak dalam diriku.
Hidup tidak selalu mudah, namun selama aku memiliki mereka, aku tahu aku memiliki alasan untuk pulang. Ayah adalah sejarahku, dan Keponakan adalah masa depanku. Keduanya adalah bagian dari napasku, alasan di balik setiap doa yang aku panjatkan, dan separuh dari alasan mengapa aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.
Sejak 3 ( Tiga ) Tahun Di Tinggal mama tercinta Ayah Dan Ponakan adalah Bagian Dari hidup Penulis yang Juga Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya Sekolah yang terletak di Jalan Bulak Rukem III No 7-9 Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Yang lagi Menempuh S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Di tengah tengah Waktu Luang Penulis Pada Hari Selasa 30/12/2025 Penulis makan malam bersama Ayah Tercinta Di RUMAH MAKAN PADANG Di DAERAH PASAR BULAK BANTENG. Dimana Ponakan Menikmati Ayam Bakar Sedangkan Ayah Tercinta Menikmati IKAN LAUT Sedangkan Penulis Menikmati RENDANG. Hidup tidak selalu mudah, namun selama aku memiliki mereka, aku tahu aku memiliki alasan untuk pulang. Ayah adalah sejarahku, dan Keponakan adalah masa depanku. Keduanya adalah bagian dari napasku, alasan di balik setiap doa yang aku panjatkan, dan separuh dari alasan mengapa aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.
Semoga tahun 2026 ini membawa kesehatan bagi Ayah, agar ia bisa terus melihat cucunya tumbuh besar, dan semoga Keponakanku tumbuh menjadi pribadi yang hebat di bawah naungan kasih sayang keluarga yang utuh.
Penulis
H.BANU ATMOKO
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Dan Mahasiswa S2 RPL MANAJEMEN Pendidikan UNESA Kelas E
Email : 24010845144@mhs.unesa.ac.id
NO HP 083857963098

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar